Asesmen Nasional Pengganti UN Bikin Anak Malas Belajar?

Ujian nasional resmi diganti dengan Asesmen Nasional. Dan, hal itu akan dimulai pertama kali pada tahun 2021 ini.

Lalu, bagaimana sih mekanisme dari Asesmen Nasional itu sendiri?

Mungkin saya sedikit terlambat dalam memberikan respon mengenai Asesmen Nasional ini. Kebetulan, saya menganut prinsip lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. hehehe.

Saya yakin sudah banyak orangtua yang mendengar atau mungkin memahami lebih baik daripada saya mengenai Asesmen Nasional ini.

Asesmen Nasional adalah program penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah dan program kesetaraan pada jenjang dasar dan menengah.

Mutu satuan pendidikan dinilai berdasarkan hasil belajar murid yang mendasar (literasi, numerasi dan karakter) serta kualitas proses belajar-mengajar dan iklim satuan pendidikan yang mendukung pembelajaran.

Nah, instrumen utama yang digunakan untuk mendapatkan informasi tersebut antara Asesmen Kompetensi Minumun (AKM), Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar.

Jika UN selama ini digeber oleh seluruh siswa tingkat akhir masa sekolah, seperti kelas 6, 9 dan 12, Asesmen Nasional berbeda.

Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita, Nadiem Makarim menjelaskan bahwa AN akan diikuti oleh kelas 5, 8 dan 11 yang dipilih secara acak.

Kenapa seperti itu?

Karena tujuan dari An adalah untuk perbaikan pembelajaran, setelah dilakukan evaluasi diharapkan terjadi perbaikan. Dan, anak-anak yang menjadi responden dari AN ini tadi bisa merasakan perbaikan yang terjadi ketika mereka naik jenjang.

AN sekarang fokus untuk mengevaluasi dan memetakan pendidikan yang mencakup proses, input dan hasil.

Ini persis seperti yang selalu saya katakan tiap kali Pelatihan Homeschooling. Bahwa aspek pendidikan itu kan ada 3, kurikulum, proses dan output.

Sayangnya, pemerintah kita terlalu fokus pada output dan inputnya. Tiap kali nilai ujian nasional jeblok atau moral siswa makin hari makin melorot, yang diutak atik selalu kurikulumnya.

Sampai-sampai kurikulum itu berganti hingga 11 kali, tapi nyatanya pendidikan kita masih gini-gini aja. Karena ada 1 aspek yang sangat penting tapi dilupakan.

Yakni proses. Bagaimana guru menyampaikan pembelajaran pada murid, apakah guru benar-benar memiliki skill yang mumpuni untuk menjadi seorang pendidik dan menguasai materi dengan optimal?

Apakah murid enjoy, menikmati proses pembelajaran? Suasana belajar di kelas seperti apa, lingkungan sekolah apakah kondusif atau tidak?

Itu jarang mendapatkan perhatian. Padahal, 3 aspek ini kurikulum atau inputnya, proses dan output itu saling berkaitan satu sama lain.

Jadi, saya sangat senang dengan perubahan evaluasi nasional melalui kehadiran dari Asesmen Nasional ini.

Seperti yang saya jelaskan tadi, terdapat 3 instrumen utama dalam AN yakni AKM, survei karakter dan survei lingkungan.

Pertama, AKM.

Yang akan diukur adalah capaian peserta didik melalui pembelajarannya di ranah kognitif, seperti literasi dan numerasi.

Makna literasi sendiri secara umum, mungkin kita akan mengartikannya dengan kemampuan membaca. Tapi, yang dimaksud menteri pendidikan kita disini bukan sekedar membaca dan menulis.

Melainkan, kemampuan peserta didik dalam menganalisis atau membaca situasi, hal-hal yang terjadi di sekitarnya dengan pemecahan masalah berdasarkan apa yang dipelajarinya.

Sedangkan numerasi, mungkin dibayangan kita adalah mengenai hitung-hitungan, simbol dan matematika dasar. Itu benar!

Tapi, lebih dari itu. Dengan kemampuan numerasi, seseorang bisa menganalisis informasi yang ditampilkan dengan berbagai bentuk, seperti tabel, grafik, bagan dsb.

Setelah mampu menganalisis, diharapkan peserta didik mampu menggunakan hasil analisisnya untuk memprediksi dan mengambil keputusan tepat.

Literasi dan Numerasi, kata Pak Nadiem Makarim membantu peserta didik dalam memahami dan mempelajari bidang ilmu lainnya. Jadi, ini adalah kemampuan dasar.

Selain AKM, instrumen kedua adalah survei karakter. Evaluasi ini dirancang untuk mengukur capaian peserta didik berdasarkan hasil belajar sosial emosional yang mengacu pada Profil Pelajar Pancasila dimana pelajar Indonesia memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila. (Beriman, bertakwa, berakhlak mulia; Berkebhinekaan Global; Bergotong royong; Bernalar kritis; Mandiri; Kreatif)

Nah, pertanyaan saya apakah survey karakter ini dilakukan secara tertulis? Atau maksud saya, tes berbasis komputer?

Kalau benar, ya menurut saya ini kurang akurat. Karena karakter seseorang tidak bisa dinilai berdasarkan hasil ujian tertulis.

Semua orang bisa jadi baik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, tapi faktanya kita tidak pernah. Misalnya, untuk karakter berakhlak mulia.

Dalam menjawab pertanyaan, jika kamu bertemu dengan tetangga yang lebih tua di jalan, apa yang akan kamu lakukan?

A. menyapa

B. melengos

C. pura-pura tidak tahu

Semua orang akan menjawab menyapa. Tapi, kenyataannya kita tidak tahu apakah kita benar-benar menyapa atau tidak.

Jadi, survey karakter akan lebih baik jika itu tidak dalam bentuk ujian tertulis atau based computer. Dan, sayangnya kita sebagai guru atau pihak sekolah juga tidak bisa menjadi polisi 24 jam bagi murid-murid kita.

Untuk mengintai, ini anak karakternya sudah sesuai dengan profil pelajar pancasila atau belum? Tidak bisa.

Maka, survey karakter ini akan lebih baik jika dievaluasi secara bertahap dalam jangka waktu tertentu. Dan, diperhatikan keseharian si anak. Tentu ini perlu dilakukan oleh wali kelas dari murid yang menjadi responden Asesmen Nasional itu.

Aduh, bakal ribet dong Miss kalau seperti itu. Memang, tapi bukankah akan lebih tepat sasaran?

Kalau kita ingin mendapatkan hasil yang baik, tentu usaha kita untuk mendapatkan hasil tersebut juga harus ekstra.

Selanjutnya, instrumen ketiganya adalah survei lingkungan belajar. Survei ini digunakan untuk mengevaluasi dan memetakan aspek-aspek pendukung kualitas pembelajaran di lingkungan sekolah.

Dan, ini penting karena proses pembelajaran yang baik tentu harus didukung dengan perangkat-perangkat materil dan imateril yang mumpuni.

Lalu Miss, selama 10 tahun terakhir ini kan kita pakai UN. Jadi, mindset anak-anak kita sudah terbentuk bahwa sekolah itu ya untuk ujian, untuk mengikuti tes agar lulus.

Kita belajar untuk dapat nilai bagus sewaktu ujian. Kalau sudah tidak ada ujian, tidak ada penyemangat untuk belajar. Kita sekolah untuk apa? Kita belajar untuk apa?

Apakah anak-anak akan tetap semangat untuk belajar, apakah mereka nanti sekolah jadi ala kadarnya saja?Apalagi tidak semua siswa jadi responden AKM, tapi dipilih secara acak.

Inilah tantangan kita saat ini. Bagaimana guru dan sekolah, mulai membentuk mindset yang tepat mengenai belajar. Bahwa belajar bukan hanya untuk mendapatkan nilai.

Melainkan untuk meningkatkan hardskill dan softskill, sehingga kehidupan kita di masa depan nanti bisa jadi lebih mudah dan lebih baik.

Sekolah itu untuk menemukan kekuatan utama dalam diri yang selama ini terpendam, kemudian kita asah agar ketika sudah lulus sekolah dan harus menghadapi dunia, kita mampu menggunakan kekuatan utama kita tersebut.

Jadi, ini momen yang bagus sekali untuk murid-murid kita karena sudah lagi belajar berjam-jam hanya untuk menghafalkan teori.

Kita bisa gunakan waktu kita untuk mengeksplorasi diri dan mengeluarkan potensi terbaik.