Anak Stres Karena Banyak Tugas Tanpa Bimbingan! Ortu Harus Apa?

“Sudahkah bapak cross check ke lapangan? Bagaimana perjalanannya belajar di rumah? Sudahkah bapak turun langsung ke lapangan tanpa diketahui protokoler? Dan, apakah bapak sudah melihat langsung proses belajar mengajar di pelosok daerah yang paling ujung di setiap daerah? Saya yakin bapak belum melakukannya karena bapak hanya dapat data dari staf-staf bapak saja”

Komentar pertama dari orangtua murid yang kesal dengan proses belajar di rumah dimana guru hanya memberikan setumpuk tugas tanpa memberikan bimbingan pada anaknya. Kita baca komentar kedua.

“Itu yang saya rasakan meski orangtua harus berperan tapi untuk saya pribadi yang masih harus bekerja tidak bisa sepenuhnya membersamai anak-anak dan saya tidak ada keahlian menerangkan materi dalam mapel anak-anaknya saya sungguh sangat bingung bagaimana supaya anak-anak saya benar-benar memahami materi pelajarannya. Setiap hari hanya tugas, tugas dan tugas.”

Sekarang, kita lanjut ke komentar ketiga.

“Guru hanya asyik memberi tugas Pak, bahkan terkadang tidak merespon pertanyaan. Setiap jam mapel hanya diberikan tugas tidak ada interaksi.”

Jadi, komentar-komentar ini saya baca di postingan akun instagram fansnya Bapak Menteri Nadiem Makarim.

Banyak sekali orangtua murid yang mengeluhkan proses belajar di rumah karena guru tidak banyak membantu. Tidak memberikan bimbingan pada murid, tapi bisanya hanya terus memberikan tugas dan tugas.

Sewaktu baca komentar-komentar mereka saya ikut prihatin dengan kondiri orangtua dan anak-anaknya. Tapi, saya tidak BISA menyalahkan guru.

Kenapa?

Karena guru pun memiliki pendapatnya sendiri. Dan, tidak sedikit juga saya menemukan orangtua yang berterima kasih pada guru anaknya karena mau memberikan penjelasan ketika dijapri. Bahkan ada guru yang mau datang langsung ke rumah muridnya untuk memberikan bimbingan.

Jadi, posisinya di sini tidak ada yang salah.

Ketika orangtua mengeluh seperti tadi, mereka tidak salah. Mereka mengungkapkan tantangan yang sedang mereka hadapi agar mendapatkan solusi.

Memang agak nyolot sih, tapi ini terjadi karena orangtua tidak terbiasa membimbing anak-anaknya dalam belajar. Mereka terbiasa menyerahkan begitu saja soal pendidikan kepada sekolah.

Sekarang, Anda tahu, kan? Betapa sulitnya membuat anak Anda paham terhadap materi belajar?

Jadi, kalau anak Anda nilainya jelek dan sulit diajak kerjasama oleh guru, jangan dicaci gurunya. Jangan dilabeli guru tidak becus ngajar dsb, karena mengajar tidak semudah yang Anda bayangkan.

Justru Anda sebagai orangtua perlu mengevaluasi diri, saya belum tentu mampu mengajar seperti guru.

Seharusnya saya berterima kasih kepada mereka dan menawarkan bantuan siapa tahu guru-guru mengalami kendala dalam proses belajar. Anak saya tidak disiplin, sulit diajak kerjasama, jangan-jangan penyebabnya adalah saya sendiri yang tidak memberikan keteladanan pada anak-anak saya untuk bersikap yang baik.

Meski begitu, keluhan orangtua murid ini pun tidak bisa diabaikan. Perlu dicarikan solusi agar guru mampu memberikan bimbingan pada murid secara optimal.

Karena bimbingan yang diberikan via chat WhatsApp, Zoom ataupun aplikasi online lainnya itu tidak mudah. Murid-murid tetap butuh dan saya yakin akan lebih mudah bagi mereka untuk menerima penjelasan secara tatap muka langsung.

Nah, jika Anda orangtua yang merasa guru tidak memberikan bimbingan lapor saja kepada kepala sekolah. Anda, bersama dengan orangtua murid yang lain harus bekerja sama untuk membuat laporan. Kalau yang lapor hanya Anda, kemungkinan besar tidak digubris, jadi harus main keroyokan.

Kalau Anda komentar di postingan akun fansnya bapak menteri, PERCUMA. Bapak Menteri tidak akan baca, kalaupun baca belum tentu langsung ditindak. Yang berkaitan langsung dengan Anda di sini adalah civitas sekolah.

Kalau Anda adalah guru, saran saya coba tingkatkan interaksi Anda dengan murid. Pastikan Anda benar-benar hadir dalam waktu belajar dengan murid sepenuh hati.

Jangan mentang-mentang anak belajar dari rumah artinya mereka tidak memiliki kerjaan, kemudian Anda terus memberondong anak dengan tugas, semua harus di print, semua harus dalam bentuk video.

Guru sebisa mungkin harus mencoba metode pembelajaran baru tidak harus selalu tatap muka via zoom atau chatting di WhatsApp.

Kemudian tugas-tugas yang diberikan tidak harus selalu dalam bentuk printed out atau video, bisa dalam bentuk karya lain.

Nah, khusus untuk metode pembelajaran dan bentuk karya ini saya akan buatkan informasi khususnya untuk para guru. Jadi, silakan ditunggu.

>> Konsultasi via WhatsApp <<