Bagaimana Cara Tepat Mengajari Anak Berpikir Kritis?

Albert Einstein pernah ditanya seseorang, ‘berapa kecepatan gelombang suara?’

Pertanyaan ini tentu saja sangat mudah bagi Einstein. Tapi, dia justru memberikan jawaban mengagumkan..

 

Saya tidak akan menggunakan otak saya untuk menghafal sesuatu yang bisa saya cari di buku. Saya lebih suka menggunakan otak saya untuk berpikir.

 

Sekarang, kita perhatikan bagaimana pola belajar anak-anak. Mereka sangat bergantung pada internet. Jika diminta mencari informasi, misalnya sebutkan 10 tokoh penemu di dunia.

Anak-anak mengetikkan pertanyaan tersebut sebagai kata kunci, kemudian dicari di internet.

Jika sudah seperti itu, apa manfaat proses pembelajaran di sekolah?

 

Tanpa sekolah pun, anak-anak mampu menjawab pertanyaan seperti itu dengan sangat mudah. Inilah yang lama-kelamaan akan membuat otak anak kita tumpul.

 

Membuat mereka malas berpikir. Dan, akhirnya melahirkan bangsa yang tidak punya kemampuan berpikir kritis.

Membuat mereka menerima begitu saja apa yang media tawarkan. Tanpa ada proses ANALISA & EVALUASI.

Bagaimana jika mereka bertemu berita hoax yang menyesatkan? Tanpa kemampuan berpikir, pantas saja anak-anak kita mudah terbawa arus negatif.

Inilah salah satu tujuan berpikir kritis. Yang mana anak kita suatu hari nanti takkan mudah terbawa arus negatif dan percaya berita hoax begitu saja.

berpikir kritis
berpikir kritis

Selama bertahun-tahun, lebih tepatnya 12 tahun (SD – SMA), anak-anak kita hanya diminta untuk menghafal serta mengulang informasi.

 

Perhatikan pertanyaan yang dimuat di lks, buku paket bahkan yang dibuat guru-guru kita. Kebanyakan pertanyaan itu masih berada di level berpikir rendah, yakni sekedar menghafal dan mengerti.

 

Contoh pertanyaan yang sering dibuat adalah siapa penemu pesawat terbang? Dan, kapan pesawat terbang itu ditemukan?

Jawabannya, Wright bersaudara dan ditemukan pada 19 Desember 1903. Selesai sudah dan saya bisa dapat 100 untuk pertanyaan semacam itu.

Hanya dengan membaca informasi di internet dan mengingatnya berkali-kali sampai saya hafal.

Pertanyaannya seputar siapa, kapan, sebutkan, jelaskan, apa pengertian dari..

Pertanyaan seperti ini sama sekali tidak mengasah kemampuan berpikir anak.

Lalu, pertanyaan seperti apa yang cocok digunakan untuk mengasah kemampuan berpikir agar otak tajam dan berkembang?

Pertanyaan yang diajukan harus mengandung kriteria 5W + 1H

  1. What (apa)
  2. Who (siapa)
  3. When (kapan)
  4. Where (dimana)
  5. Why (kenapa)
  6. How (bagaimana)

Bukan sekedar siapa dan kapan. Melainkan, pertanyaan kompleks dan lengkap yang mampu memaksa anak berpikir. Contoh berpikir kritis adalah melalui pertanyaan-pertanyaan seperti ini;

  1. Siapa yang menemukan pesawat terbang pertama kali?
  2. Kapan mereka menemukan pesawat terbang pertama kali?
  3. Dimana pesawat terbang itu mendarat pertama kali?
  4. Kenapa Wright bersaudara punya inisiatif membuat pesawat terbang? atau, apa yang menjadi latar belakang Wright bersaudara membuat pesawat terbang?
  5. Apa akibat dari penemuan Wright bersaudara ini? Atau, perubahan apa yang terjadi pada dunia setelah Wright bersaudara menemukan pesawat terbang?
  6. Bagaimana Wright bersaudara bisa menciptakan pesawat terbang?
  7. Motivasi apa yang memicu Wright bersaudara pantang menyerah dalam menciptakan pesawat terbang?
  8. Modal apa yang digunakan Wright bersaudara untuk menciptakan pesawat terbang?

Dan, pertanyaan lain yang masih berkaitan dengan tema penemuan pesawat terbang.

 

Semakin rumit pertanyaan yang dibuat, semakin bagus. Semakin sulit jawabannya untuk ditemukan di buku/internet, semakin bagus.

 

Pertanyaan di atas masih bisa dikembangkan. Tidak melulu soal siapa dan kapan, tapi kita perlu menstimulasi anak untuk mengevaluasi dan menganalisa informasi yang ada.

Supaya mereka terbiasa berpikir kritis untuk menentukan..

  • apakah informasi ini yang saya butuhkan?
  • apakah informasi ini valid?
  • apakah saya perlu melakukan riset ulang atau tidak?
  • apakah saya bisa ikuti opini ini?

Bukan sekedar menerima informasi apa adanya.

Secara umum, yang terjadi di sekolah Indonesia justru sebaliknya. Sekolah menganggap semakin banyak hal yang anak ketahui, itu semakin bagus dan akan mendapat label cerdas.

Tapi, menurut saya itu bukanlah hal yang BIJAKSANA.

 

Untuk apa mengingat banyak informasi, tapi tak bisa memanfaatkan informasi itu untuk kemajuan hidup?

 

Orang cerdas itu bukan soal banyak atau sedikitnya informasi yang diketahui, tapi seberapa banyak informasi yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupannya.

Dan, itu menghasilkan kebaikan serta manfaat untuk dirinya sendiri serta lingkungannya.

Untuk bisa memanfaatkan informasi yang ada, kita perlu memiliki kemampuan berpikir kritis.

Yang termasuk di dalamnya adalah menganalisa dan mengevaluasi sebuah informasi.

Latih anak Anda mengelaborasi informasi dengan cara menjawab pertanyaan menggunakan kriteria 5W + 1H.

Susunlah pertanyaan-pertanyaan yang mana jawabannya TAKKAN PERNAH mereka TEMUKAN di buku maupun internet.

 

Jawaban itu harus lahir dari proses berpikir kritis dan cara pandang anak-anak sendiri.