5 Cara Ampuh Mendisiplinkan Anak yang Patut Anda Coba

cara mendisiplinkan anak
cara mendisiplinkan anak

Disiplin bukan soal tepat waktu saja. Disiplin memiliki makna yang luas. Berikut saya kutip dari wikipedia;

 

Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya merupakan tanggung jawabnya. Pendisiplinan adalah usaha-usaha untuk menanamkan nilai ataupun pemaksaan agar subjek memiliki kemampuan untuk menaati sebuah peraturan.

 

Jadi, orangtua lah yang lebih BERHAK dan MAMPU mengajarkan nilai kepada anaknya.

Supaya mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab terhadap hidupnya.

Mampu mengenal potensi dalam diri dan menggunakan potensi tersebut agar bermanfaat bagi sesama.

Nilai-nilai ini harus lahir dari prinsip dan keyakinan yang dipegang orangtua. Sehingga, tiap anak akan bersikap sesuai dengan nilai kebaikan yang diturunkan turun temurun dari keluarganya.

 

Cara mendisiplinkan anak memang tidak mudah. Anda harus memulainya dari sendiri dan sejak anak berusia dini.

 

Tapi, kewajiban yang Anda lakukan dalam mendisiplinkan anak akan berbuah manis. Sebab, anak-anak yang disiplin juga memiliki sikap KONSISTEN dan PERSISTEN sekalipun hidup dalam tekanan.

Berikut adalah cara mendisiplinkan anak yang tepat.

1. Dimulai dari Orangtua Sendiri

Jangan terlalu mengekang anak dengan berbagai aturan. Ijinkanlah anak untuk memilih bagaimana mereka akan menjalani hidupnya.

Tentu saja, sebelumnya orangtua harus memberikan pemahaman dan resiko apa yang akan ditemui jika memilih sesuatu.

Anak harus terjun langsung mengatasi masalahnya, bukan sekedar menunggu bantuan dari orangtua.

Bantuan yang terlalu sering membuat anak malas dan lemas saat menemui hambatan.

Bangunkan jiwa gigih anak-anak kita dengan self discipline yang kuat, sehingga kerasnya kehidupan takkan melemahkan, tapi justru menguatkan.

2. Disiplin Bukan Kekerasan

Orangtua takut jika anak menjadi tak hormat saat kita terlalu lembek di depan mereka. Cara mendidik anak yang keras dipilih agar mereka tetap segan dan tak berani melawan perintah.

Banyak diantara kita yang mengaku, ini bukan bentuk dari KEKERASAN, melainkan KEDISIPLINAN.

 

Terlalu lembut, tidak membuat aturan dan memperbolehkan segalanya memang membuat anak cenderung bebas dan bertindak kebablasan. Terlalu keras, membuat aturan ini-itu bahkan tak memperbolehkan anak mengambil keputusan sendiri hanya akan membuat anak sedih dan terkekang.

 

Orangtua harus tetap mengedepankan kelembutan, tapi membatasi perilaku anak dengan aturan wajar yang bisa mereka terima.

Saat anak melakukan kesalahan, berikanlah contoh tindakan yang tepat. Kemudian ajak mereka berdiskusi untuk mendengar penjelasan dan melihat sudut pandang anak.

Orangtua seringkali melihat kasus hanya dari sudut pandang pribadi sehingga mudah menyalahkan anak.

Mencoba melihat perspektif baru dari sisi anak akan membuat kita sadar bahwa ada latar belakang dibalik masalah yang muncul.

3. Disiplin dari Hal Kecil

Disiplin bisa diajarkan sejak anak usia dini, yakni mulai usia 1 tahun. Tentu saja, dengan cara-cara sederhana sesuai kebutuhan mereka.

 

Anak belum mengerti perilaku mana yang dianggap baik dan diharapkan lingkungan. Mereka sangat menikmati berbuat sesuka hati, mudah ngambek, sulit fokus dan lari kesana kemari.

 

Orangtua jangan marah saat anak bertingkah seperti ini di tempat umum. Anda hanya perlu mengawasi, kemudian mengingatkan untuk tak mengganggu kenyamanan orang lain.

Saat menginjak usia 2 – 3 tahun, mereka mulai mengenal beragam emosi tapi masih sulit mengendalikannya.

Apabila orangtua melarangnya melakukan sesuatu, anak akan berontak dan menangis supaya permintaannya dikabulkan.

Jangan sampai TERGODA dengan rengekan semacam itu karena sekali Anda meloloskannya, mereka akan kembali mengulang rengekan untuk meluluhkan hati Anda.

Setelah tangisan anak reda, dekati dan berikan respon,

 

Kakak marah ya, karena ayah melarang kamu makan 3 permen? Kalau kakak terlalu banyak makan permen, nanti giginya bisa berlubang kaya gini

 

Untuk menghindari hal serupa, sering-seringlah mengajak anak ngobrol dengan menunjukkan hal-hal yang boleh ia lakukan dan mana yang tidak.

Ini adalah cara sederhana untuk mendisiplinkan anak usia dini mulai dari hal kecil.

4. Membuat Peraturan Bersama Anak

Ini adalah cara mendisiplinkan anak remaja yang tepat. Karena ciri khas remaja itu tidak suka diatur.

Meskipun kemampuan berpikir dan pengalamannya masih terbatas, mereka tetap lebih suka bertindak atas dasar keinginan pribadi ketimbang diperintah orangtuanya.

 

Kuncinya, dengarkan dan perhatikan keinginan anak. Kemudian, buatlah aturan bersama mereka.

 

Akan lebih nyaman bagi anak dalam melakukan sesuatu apabila diberikan pilihan oleh orangtuanya.

Alih-alih memerintah, orangtua meminta anak untuk bersikap kooperatif dengan pilihan yang sama-sama menguntungkan kedua belah pihak

5. Menjadi Tegas dan Konsisten

Cara mendisiplinkan anak memang gampang-gampang susah. 

Kita sering kehilangan ketegasan dan sulit konsisten hanya karena melihat wajah sendu anak, mendengar rengekan atau terpesona berkat kedisiplinan anak yang sesaat.

Setelah beberapa kali mengikuti perintah orangtua tanpa membantah, muncullah perasaan iba.

 

Kasihan anakku selama seminggu ini sudah mau nyuci piring sendiri. Padahal ada mbak yang ngurusin.

 

Rasa iba membuat orangtua berhenti mendisiplinkan anak dan memberikan kelonggaran pada beberapa tugas yang sudah disepakati bersama.

Inilah bentuk inconsistency orangtua yang menyebabkan kebingungan pada anak.

Sikap mencla-mencle dengan keputusan dan aturan yang sering berubah tentu akan mengendurkan kedisiplinan anak.

Pastikan sebelum membuat aturan, orangtua telah memikirkannya masak-masak. Sehingga, di kemudian hari tak membuat kita tak mudah berubah pikiran.