Bagaimana Cara Mengajar Anak yang Baik dan Efektif?

Di artikel sebelumnya, saya sudah menjelaskan mengenai Jenis Ingatan (Memori) Manusia. Ada satu memori yang disebut dengan memori jangka panjang yang mana mampu menyimpan informasi dan pengalaman dalam hitungan hari, bulan, tahun bahkan seumur hidup.

Namun, tidak semua informasi bisa masuk ke memori jangka panjang. Hanya informasi yang dianggap PENTING DAN BERARTI yang bisa disimpan dalam waktu lama, bahkan tak bisa dilupakan sepanjang hidup.

cara mengajar yang baik
cara mengajar yang baik

Jika anak kita mudah lupa dengan pelajaran yang sudah dipelajari, apakah ini berarti informasi/pengetahuan yang didapat di sekolah tidak penting dan berarti bagi anak?

Jawabannya, IYA.

Konon, kurikulum disusun oleh mereka yang berpendidikan dengan mengacu pada referensi valid. Diharapkan anak-anak mampu menjadi orang berpendidikan seperti si penyusun.

Sayangnya, materi pelajaran yang dibuat justru jauh dari konteks kehidupan riil anak-anak kita. Mereka diminta untuk menghafal hal-hal yang tak sesuai dengan kehidupan keseharian. Mereka diminta untuk mengawang-awang kehidupan yang jauh dari jangkauannya.

 

Inilah yang membuat anak-anak kita tak antusias dalam belajar. Mereka mungkin duduk manis dan mendengarkan, tapi itu karena diteror oleh kurikulum.

 

‘Kalau kamu tidak mendapatkan nilai baik, maka kamu tidak akan lulus ujian’

Anak-anak belajar bukan karena cinta dengan apa yang dipelajari.

Anak-anak belajar bukan karena tahu manfaat dari apa yang dipelajari.

Mereka belajar karena tuntutan dan paksaan dari kurikulum.

Inilah salah satu penyebabnya, ‘kenapa anak kita mudah lupa dengan materi pelajaran yang baru saja diajarkan’.

Anak-anak kita belum menemukan kaitan antara apa yang dipelajari dengan manfaat yang bisa didapatkan di dunia nyata.

  • Anak mempelajari fisika tanpa pernah tahu kapan bisa memanfaatkannya
  • Anak mempelajari kimia tanpa pernah tahu apa manfaatnya untuk diri sendiri di masa depan
  • Anak mempelajari matematika dengan cara duduk, mendengarkan dan mencatat, tanpa ada unsur muatan emosi sedikit pun

Apakah itu dalam keadaan happy atau semangat. Hampir tanpa ada perasaan senang saat menjalani keseharian di kelas. Pembelajaran yang terjadi sangat monoton.

Materi pelajaran yang disampaikan seringkali jauh dari konteks kehidupan nyata anak-anak dan metode penyampaian guru di kelas sangat membosankan, yakni ceramah.

LALU . .

  • bagaimana membuat anak kita cinta dan antusias dengan proses belajar?
  • bagaimana cara membuat materi pelajaran yang menyenangkan?
  • bagaimana cara mengajar yang baik?
  • bagaimana cara mengajar yang efektif?
  • bagaimana cara mengajar yang tidak membosankan?

Pada tulisan kali ini, saya akan memanfaatkan karakteristik memori jangka panjang dalam membuat strategi mengajar yang baik untuk anak. Cara ini sangat tepat diterapkan untuk anak di sekolah dasar, untuk anak smp, sma maupun praktisi homeschooling.

Cara Mengajar yang Baik

Ada 2 jenis informasi yang akan disimpan dalam jangka waktu lama oleh memori jangka panjang, yakni informasi yang bernilai keselamatan hidup dan mengandung muatan emosi.

Jadi, supaya materi pelajaran yang kita sampaikan mudah dipahami oleh anak, mengena di hati mereka dan membuat mereka lebih antusias..

 

kita harus merancang materi pelajaran sesuai dengan konteks kehidupan riil mereka. Anda harus tunjukkan manfaatnya agar anak mengetahui alasan, ‘kenapa saya harus mempelajari ini?’ Kemudian, menyampaikan materi tersebut dengan cara menyenangkan. Cara yang membuat mereka happy, tertarik sehingga emosinya terlibat.

 

Misalnya, kita ingin menyampaikan materi NASIONALISME pada anak. Umumnya, di sekolah guru akan mengajarkan materi ini dengan mengacu pada buku paket atau LKS.

Kemudian, mengajak murid membaca teks yang sama sekali tidak menarik. Contoh dari sikap nasionalisme yang ditulis dalam LKS biasanya mengenai . .

  • upacara bendera
  • membantu korban bencana alam
  • meminta anak menyanyikan lagu daerah, lagu kebangsaan
  • meminta anak menghafalkan baju adat tiap daerah
  • menghafalkan perilaku yang mencerminkan kerukunan, saling menghormati dan membantu

Ini materi yang bagus. Sayangnya, dibungkus dengan cover yang tidak menarik.

Guru cenderung meminta anak membaca dan menghafal. Contoh-contohnya pun abstrak. Anak diminta untuk membayangkan, menerawang.

Bagaimana anak bisa tertarik jika materinya saja sulit mereka bayangkan?

 

Untuk menyampaikan materi NASIONALISME, kita bisa gunakan ‘alat peraga’ yang sesuai dengan minat anak.

 

Contoh, anak Anda gemar main sepak bola. Ajak mereka berbincang mengenai klub sepak bola Indonesia yang mereka idolakan.

Siapa anggota tim sepak bola yang andal, bagaimana kiprahnya dalam dunia sepak bola, latihan apa saja yang sudah mereka lakukan hingga mampu berprestasi. Anda bisa mengajak anak nonton tayangan sepak bola bersama-sama.

Jelaskan pada anak bahwa bentuk dari usaha para pemain sepak bola itu adalah SIKAP NASIONALISME.

Mereka berjuang membela tim sepak bola atas nama Indonesia. Mereka berlatih puluhan jam dalam sehari untuk mengharumkan nama bangsa.

Sembari menonton, Anda bisa bertanya pada anak;

  • kak, kira-kira strategi yang dipakai pemain itu gimana?
  • hebat ya! latihannya pasti nggak gampang
  • menurut kakak, kebobolan gawang tadi kesalahan siapa?
  • kalau kakak jadi anggota tim itu, strategi apa yang bakal kamu pakai?

Minta mereka menilai dan mengeluarkan pendapatnya. Dengan membicarakan apa yang anak sukai, apakah mungkin mereka jadi jenuh dalam belajar?

Tidak mungkin! Mereka pasti antusias dan tak mudah lupa dengan apa yang sudah dipelajari.

Cara mengevaluasi pemahaman mereka pun tidak dengan mengisi isian singkat. Itu sama sekali tidak mengukur kompetensi anak. Karena mereka bisa dengan mudah mencari jawabannya di buku teks.

 

Cara mengevaluasi pemahaman anak bisa dilakukan dengan mengobrol, berdiskusi, kemudian menilai pendapat dan cara pandang mereka.

 

Ini adalah salah satu contoh cara mengajar yang baik, menarik dan asyik. Materi pelajaran yang digunakan harus sesuai dengan konteks kehidupan anak, dikaitkan dengan pengalaman mereka.

Sehingga, mereka bisa tahu manfaatnya, oh, ini manfaatnya untuk saya. ternyata pelajaran di sekolah bisa diterapkan di keseharian ya?’

Silahkan diterapkan untuk anak Anda. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba!