Anak Kita Lebih Baik Jadi GENERALIS ATAU SPESIALIS?

spesialis atau generalis

Orang yang memiliki beberapa skill dan pengetahuan dari banyak bidang disebut GENERALIS.

Misalnya, seseorang dengan kemampuan menulis yang baik. Di satu sisi dia juga memiliki kemampuan marketing yang bagus. Khususnya social media marketing. Sehingga, dia seringkali memamerkan karyanya melalui social media.

Ada orang dengan kemampuan yang bagus dalam satu bidang dan ini disebut dengan SPESIALIS. Mereka memiliki keahlian mendalam dalam satu bidang saja.

Seperti dokter spesialis kandungan, dokter spesialis THT dsb yang mana mereka memang fokus pada bidang itu saja.

Ada lagi profesi pengacara yang khusus mendalami bidang hukum tertentu. Misalnya, pengacara bisnis, pengacara kriminal, pengacara perceraian, pengacara kepailitan dsb.

Selama ini, banyak tokoh parenting menggaungkan soal minat dan bakat. Dimana mereka menitikberatkan anak-anak harus dianalisa minatnya dalam bidang apa saja.

Kemudian dari minat-minat yang terdaftar, diseleksi lagi hingga MENCIUT dan menjadi satu bidang yang paling disukai.

  • Kalau sudah ditemukan 1 bidang yang paling disukai
  • Tidak merasa bosan mempelajarinya
  • Cepat menangkap pelatihan yang diberikan

Kemudian, kita menganggapnya sebagai bakat anak.

Dari metode pencarian minat bakat ini, banyak orang percaya bahwa seseorang itu harus memiliki satu bidang yang didalami dan MENJADI HEBAT dalam satu bidang tersebut. Dia harus ahli dan mendalaminya kemudian menjadi spesialis dalam bidang itu.

Lalu, mana yang lebih baik untuk anak-anak kita Miss Ayu? Menjadi spesialis atau generalis? Katanya kalau kita punya spesialisasi, kita akan dihargai lebih tinggi.

Misalnya, dokter umum dibandingkan dengan dokter spesialis. Mana yang lebih tinggi bayarannya? Dokter spesialis tentunya.

Tapi, kalau diperhatikan 10 tahun belakangan sepertinya kok dunia dipenuhi dengan para generalis-spesialis.

Artinya, orang-orang yang memahami dasar-dasar dari banyak bidang LEBIH MENDOMINASI daripada master dari satu bidang keahlian.

Contoh kasus..

beberapa waktu lalu teman saya dapat pesanan mendesain website dari seorang pelukis. Pelukis ini sangat memahami alur marketing dengan memanfaatkan platform teknologi seperti website dan social media.

Dia minta diajari;

  • cara mengelola website,
  • bagaimana website ini tampil nomor satu di pencarian google
  • cara melakukan social media marketing
  • bagaimana membangun personal branding melalui platform-platform teknologi itu

Klien teman saya ini ternyata sadar bahwa jaman sekarang, pelukis tak bisa jadi sekedar pelukis. Dia juga harus memiliki kemampuan personal branding yang baik untuk menggaungkan karyanya.

“Kalau tidak seperti itu, darimana orang-orang akan mengenal karya saya?”, begitu kata klien teman saya.

Jadi..

di saat yang sama pelukis ini memiliki kemampuan yang baik dalam melukis, memiliki kemampun personal branding untuk mempromosikan karyanya sekaligus memahami social media marketing.

Bukankah ini generalis?

Ada lagi seorang chef yang jago masak. Kita mengenal beliau di ajang pencarian bakat dalam bidang memasak yakni Chef Arnold Purnomo.

Kita tahu, beliau ini jago masak. Ya iyalah.. namanya juga chef! ūüėÄ

Jago personal branding juga via YouTube dan social media. Bisa dikatakan beliau ini celebrity chef, influencer sekaligus pengusaha dalam bidang makanan. This is generalist!

Ada lagi, penyanyi yang cukup terkenal namanya Tompi. Suaranya bagus, bisa main alat musik, tahu dasar-dasar dan teknik bernyanyi, di satu sisi beliau juga seorang dokter spesialis bedah plastik.

Jadi Miss Ayu, generalis sekarang lebih “LAKU” atau lebih dibutuhkan daripada spesialis! Kalau gitu, anak saya jadi generalis saja. Dalam sekali waktu, saya mau ajarkan anak saya semua kemampuan jaman now.

Apakah sebagai orangtua kita harus ambil keputusan seperti itu? Eits.. tunggu dulu. Sebelum ambil keputusan, kita diskusi dulu..

Generalis Sudah Ada Sejak Jaman Dulu

Sekitar abad 7-12, para ilmuwan muslim dicurigai sebagai para generalis. Ada Ibnu Sina yang kita kenal sebagai seorang filsuf. Ternyata, beliau juga dokter sekaligus ahli Fiqih (hukum islam).

Pada masa renaisans di Eropa, para ilmuwan juga terindikasi memiliki keahlian jamak. Leonardo da Vinci yang selama ini kita kenal sebagai pelukis dengan karya fenomenalnya Monalisa, ternyata juga arsitek, penulis dan filsuf.

Galileo Galilei merupakan bapak fisika modern, astronom dan filsuf.

Seiring berjalannya waktu..

pengetahuan kita di sekolah mulai dikelompok-kelompokkan.

Dan, kita terbiasa bahwa bidang keilmuan satu dengan yang lainnya itu TAK TERHUBUNG. Sehingga, informasi yang kita dapatkan selalu bersifat terpisah dan terkotak-kotak.

Padahal, di jaman now jika ingin BERTAHAN & TETAP EKSIS kita harus terus upgrade diri dengan kemampuan-kemampuan baru sesuai perkembangan jaman.

For example.. 

saat saya kuliah S1 jurusan pendidikan bahasa inggris.

Di jaman kuliah saya, social media belum sehits ini popularitasnya. Belum banyak yang memanfaatkan keberadaan website.

Kedua benda asing tersebut digunakan sebagai media curhat alias buku diary online. Benar, kan? Hayo ngaku, siapa disini yang suka curhat alay pakai facebook, blogspot dan website gratisan?

Sekarang, lebih dari itu! Social media menjadi media personal branding yang luar biasa hebat. Dan, website menjadi media berjualan yang dahsyat.

Dulu saya hanya fokus mempelajari HOMESCHOOLING DAN CARA MENGAJAR. Sejak 4 tahun lalu, saya belajar menulis di website.

Bukan sekedar menulis..

saya belajar detil mengenai on page SEO dan off page SEO.

Itu adalah teknik agar tulisan-tulisan saya di website menjadi nomor satu di hasil pencarian google.

Saya belajar copywriting tho!

Bagaimana cara menulis enak dan jualan di dalam tulisan itu tanpa sepengetahuan Anda sebagai pembaca. Dan, menggerakkan pembaca untuk mau membeli atau bergabung dengan pelatihan homeschooling tanpa harus dipaksa.

Tak hanya itu..

  • saya belajar ngevlog¬†sendiri
  • bikin channel YouTube
  • edit video pakai aplikasi filmora dsb

Dan, saya mengakui sebagai generalis-spesialis!

Anda mengenal saya sebagai aktivis homeschooling. Tapi, saya mempelajari banyak hal baru setiap hari agar saya TETAP EKSIS. Dan, baru-baru ini saya belajar metode marketing via aplikasi TikTok. Karena aplikasi ini sedang boom!

Jika tak ingin tenggelam, saya harus upgrade skill serta mengikuti kebutuhan dan perkembangan jaman.

Kebutuhan industri baru dan perkembangan teknologi melahirkan profesi-profesi baru yang mana profesi ini diharuskan memiliki KEMAMPUAN JAMAK agar berhasil.

Memang saya memiliki 1 bidang kefokusan, yakni homeschooling :). Tapi, saya tetap membutuhkan kemampuan lain untuk mengoptimalkan hasil dari bidang pertama yang saya dalami.

Jadi Miss Ayu..

Anda mendukung generalis-spesialis? BENAR, setidaknya untuk saat ini. Tapi, ada beberapa poin yang perlu Anda perhatikan;

Pertama, miliki 1 bidang spesialis

Sejak dini, penting untuk mencari minat dan bakat anak Anda. Penting untuk mengetahui dimana passion mereka. Dan, sangat bagus untuk mendalami satu bidang khusus sejak kecil.

Bahkan jika anak Anda beruntung, dia bisa mendalami bidang tersebut hingga sekolah, perkuliahan bahkan mendapatkan pekerjaan sesuai bakatnya tersebut.

Apapun bidang yang dipilih anak Anda, tingkatkan terus pengetahuan dan keterampilan mereka. Spesialisasi tetap dibutuhkan.

Kedua, belajar hal baru untuk lengkapi bidang spesialisasi

Sudah kantongi bidang spesialisasi? Dorong anak untuk mempelajari hal baru di luar spesialisasinya.

  • anak Anda belajar renang
  • sudah jadi perenang jago, bahkan
  • sering menang lomba

Di satu sisi, dia sangat tertarik dengan dunia fotografi. Kenapa tak berikan ruang pada anak untuk mempelajarinya?

Dia bisa menjadi fotografer spesialis kejuaraan renang atau jika tidak dikaitkan, anak Anda tetap bisa berkarya melalui kedua jalur tersebut. Renang dan fotografi.

Saya punya seorang teman yang berprofesi sebagai customer service di sebuah bank BUMN. Dia suka banyak hal yang berkaitan dengan menghitung  sejak SMA dan memilih mengambil jurusan akuntansi di sebuah universitas negeri di Semarang.

Sekarang, sudah bekerja hampir 9 tahun di dunia perbankan. Dia punya hobi lain, yakni memasak. Tiap weekend, dia selalu mencoba resep baru karyanya sendiri.

Dia rajin ambil gambar masakannya, dibikin status dan ternyata banyak yang tertarik. Akhirnya, tiap weekend dia dapat pesanan makan siang dari teman-teman kantornya, keluarga teman kantornya dsb.

  • Pekerjaan utamanya adalah pelayan dalam bidang perbankan.
  • Pekerjaan sampingannya berkaitan dengan hobinya yakni, memasak.

2 bidang berbeda dan dia masih terus meningkatkan skill memasak maupun kinerjanya di kantor. She is generalist!

Apapun bidang yang disukai anak Anda selain spesialisasinya, berikan wadah dan dukunglah.

Meskipun terkesan jauh dan tidak terhubung dengan spesialisasi pertamanya.

Seperti yang saya katakan tadi..

kebutuhan industri baru dan perkembangan teknologi melahirkan profesi-profesi baru yang kompleks dan dituntut memiliki kemampuan jamak.

Kita bahkan tak hanya bersaing dengan sesama manusia, tapi juga dengan mesin. Maka, ini adalah ancaman bagi spesialis.

Apalagi jika dia tidak mau belajar skill baru atau tidak memiliki kepakaran lain yang melengkapi spesialisasinya.

Oh ya satu lagi!

GENERALIS-SPESIALIS adalah tanda bahwa Anda seorang pekerja keras. Anda tak berhenti pada satu kepakaran, tapi terus belajar memperbaiki diri agar makin maju serta bertahan di tengah dunia yang penuh tantangan.