Hambatan dalam Kegiatan Belajar Homeschooling

Homeschooling menghadirkan warna yang berbeda untuk tiap keluarga yang menjalankannya.

Kegiatan yang menyenangkan, menantang dan mengharukan akan menjadi kenangan tersendiri bagi keluarga homeschooling.

 

Orangtua akan merasakan kebahagiaan unik sebab berkesempatan melihat tahap demi tahap perkembangan anaknya.

 

Anak akan mendapatkan kenangan manis sebab orangtua selalu menemani dan mendukung tiap kegiatan yang dilakukan.

Sayangnya, perjalanan homeschooling tak selalu berjalan mulus.

Ada banyak hambatan homeschooling dan pergolakan batin yang sering dialami oleh keluarga homeschooling, khususnya para orangtua. Berikut adalah hambatan dan tantangan yang dialami oleh praktisi homeschooling.

1. Apakah Kita Bisa?

Rasa tidak percaya diri ini muncul akibat orangtua sering membandingkan keluarganya dengan keluarga lain.

Terbiasa membandingkan anaknya dengan anak tetangga, kerabat atau saudara.

Kemudian, orangtua merasa perlu mengungguli pencapaian pendidikan keluarga lain.

Kita juga sering dicekoki dengan iklan sekolah favorit, sekolah berbasis agama yang menjanjikan karakter mulia, prestasi akademis luar biasa dan fasilitas serba ada di sekolah tersebut.

Ditambah lagi rasa tidak mampu, menganggap diri ini tak pantas mendidik anak sendiri sebab masih punya banyak kekurangan.

Seperti, kurang sabar, tidak kreatif dan tidak banyak menguasai mata pelajaran sekolah.

 

Jika kita fokus pada kekurangan, maka kita akan kesulitan melihat kelebihan apa yang sebenarnya kita miliki.

 

Justru, kita perlu menjadikan hambatan ini sebagai tantangan untuk membuktikan pada anak-anak bahwa orangtuanya mau belajar, bekerja keras dan memperbaiki kualitas diri demi mereka.

 

Tidak ada orangtua yang sempurna. Begitu juga dengan anak-anak kita.

 

Cari dan temukan kelebihan Anda, kemudian manfaatkan itu untuk mengefektifkan kegiatan belajar homeschooling.

Bekali diri dengan ilmu parenting, didik anak-anak sembari Anda belajar meningkatkan kualitas diri.

Insyallah, hal ini akan mengurangi kekhawatiran Anda mengenai kemampuan dalam mendidik dan mengajar anak sendiri.

2. Pasangan dan Keluarga Besar Tak Mendukung

Kunci sukses homeschooling adalah kuatnya komitmen keluarga dalam menjalankannya.

Selama orangtua memiliki pandangan dan arah pendidikan sama, maka keluarga tersebut akan kuat dalam mengatasi hambatan yang menghadang.

 

Tapi, bagaimana jika saat memulai kita ditentang pasangan sendiri?

 

Solusinya, kenalkan pasangan Anda pada homeschooling secara bertahap.

 

Berikan penjelasan mengenai proses homeschooling, kekuatan atau kelebihannya, ajak pasangan menghadiri kegiatan komunitas homeschooling dan sharing dengan sesama praktisi.

 

Secara perlahan, tunjukkan pandangan dan visi pendidikan yang ingin Anda raih bersama anak-anak.

Jika pasangan sudah setuju, selanjutnya Anda perlu menginformasikan keputusan Anda pada kakek-nenek.

Sebetulnya, persetujuan dan komitmen dari keluarga inti itu sudah cukup.

Namun, banyak keluarga Indonesia yang masih tinggal serumah atau satu kompleks dengan keluarga besarnya.

Jadi, kita perlu memberikan penjelasan mengenai keputusan yang telah diambil terkait pendidikan anak.

 

Hindari konfrontasi atau menunjukkan bahwa keputusan Anda-lah yang terbaik.

 

Anda tidak perlu membuat mereka setuju dan mendukung. Yang paling penting adalah kenyamanan Anda dan anak-anak sebagai pelaksana utama.

3. Saya Tidak Sabaran..

Semua orangtua mengaku kesulitan menghadapi sikap anak yang kadang diluar kendali dan menjengkelkan.

SATU RAHASIA YANG PERLU ANDA KETAHUI

semua orangtua memang sejatinya tidak ada yang penyabar.

Jika Anda melihat ada orangtua yang ‘kelihatan sabar’, sebenarnya mereka lebih mampu menahan emosi untuk tidak mengungkapkan kemarahan di depan umum.

Orangtua semacam ini lebih pandai mengatur intensitas dan frekuensi kemarahannya.

 

Mereka tahu kapan harus marah dan bagaimana cara memarahi anak dengan tepat tanpa melukai perasaan anaknya.

 

Kemarahan itu biasanya muncul saat Anda sudah lelah dengan pekerjaan yang menyita waktu, tiba-tiba anak datang bersama sikap yang tidak Anda harapkan.

Saat hal ini terjadi, sebaiknya segera pergi ke kamar untuk menghindari marah di depan anak.

Tenangkan diri, dinginkan kepala Anda dan tanyakan pada diri sendiri, apa yang sebenarnya membuat saya marah? Apakah kelakuan anak atau pekerjaan kantor yang tak kunjung selesai?

Setelah Anda tenang, dekati dan peluk anak Anda.

Ajak mereka ngobrol mengenai kegiatan yang sudah ia lewati seharian ini.

Diskusikan juga tindakan anak yang menyulut kemarahan Anda, kemudian ajak ia membuat kesepakatan agar tak melakukan hal yang sama di lain waktu.

4. Kenapa Anak Saya Tak Berprestasi?

Praktisi homeschooling perlu bergabung dengan komunitas homeschooling.

Sharing dengan praktisi lain, mencari solusi untuk masalah yang dihadapi hingga mencari ide kegiatan dan materi belajar.

Saat berkomunikasi dengan praktisi homeschooling inilah, muncul pemikiran orangtua terhadap prestasi anaknya.

  • “Kok, anak mereka bisa gitu ya yah?”
  • “Kenapa anak-anak yang lain bisa berprestasi, tapi anak kita tidak?”
  • “Coba lihat deh, keluarga homeschooling A! Anaknya keren gitu bisa kreatif dan berani. Gimana nih perkembangan anak kita, kok masih biasa saja.”

Membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain adalah tindakan yang tidak bijaksana.

Jika Anda ingin melihat perkembangan anak, perhatikanlah kondisi mereka pada hari kemarin dengan hari ini.

 

Saat Anda melihat kelebihan dari anak lain, sebenarnya itu hanya salah satu potensi yang muncul, kemudian ‘dipamerkan’ ke orang lain.

 

Anda perlu menyadari bahwa tiap anak lahir bersama dengan kekurangan dan kelebihannya.

Jika memang kelebihan anak belum terlihat, jangan khawatir.

  • Terima anak-anak apa adanya
  • Berikan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan mereka, dan
  • Lakukan stimulasi agar potensiya mampu keluar

Apabila waktunya sudah tiba, potensi anak-anak akan terlihat dengan sendirinya.

Intinya, jangan galau dengan perkembangan anak. Salah satu klien kami, bahkan, potensinya baru keluar saat sudah lulus kuliah.

Tidak perlu memaksa atau terlalu mendorong anak melakukan sesuatu supaya terihat keren dan berprestasi.

Jika mereka merasa tidak nyaman, justru potensinya akan sulit keluar.

5. Anak-anak Jadi Bergantung pada Orangtua

Tuhan menciptakan manusia dengan beragam kepribadian.

 

Ada yang tumbuh jadi pemberani, mudah beradaptasi. Ada juga yang jadi pemalu dan butuh waktu sedikit lebih lama dalam beradaptasi.

 

Jika anak terlihat lebih bergantung pada orangtua serta sulit beradaptasi dengan lingkungan baru, hindari untuk mendorong apalagi memaksa mereka agar bisa tampil berani.

Sebaiknya, kita pupuk keberanian mereka secara perlahan. Bantu dan temani ia bergabung dengan komunitas sehobi.

Pastikan juga lingkungan komunitas menerima dan menyambut anak Anda dengan baik serta menyenangkan.

Apabila anak sudah merasa aman dan nyaman dengan lingkungan tertentu, otomatis mereka akan tampil lebih berani.

7. Apakah Homeschooling yang Kami Jalankan Sudah Tepat?

Untuk mengetahui ketepatan dari sesuatu, maka Anda membutuhkan alat pengukur.

Lalu, apa yang menjadi alat ukur dari keberhasilan proses homeschooling?

 

Tujuan atau visi pendidikan keluarga Anda.

 

Tiap keluarga homeschooling harus memiliki visi pendidikan yang kemudian diturunkan menjadi tujuan-tujuan jangka pendek.

Visi pendidikan ini akan menjadi acuan Anda dalam membuat keputusan sehari-hari.

Apakah sekarang proses homeschooling Anda sudah berada di jalur yang tepat atau belum, Anda sendiri yang bisa menjawabnya dengan mengacu pada tujuan yang telah Anda tentukan sebelumnya.

Apabila saat ini Anda sedang menjalankan homeschooling usia dini, selain menggunakan tujuan pendidikan sebagai alat ukur, gunakanlah kurikulum anak usia dini yang diterbitkan Kemendikbud.

Dalam kurikulum tersebut, Anda bisa mengecek perkembangan apa saja yang perlu dikuasai oleh anak.

Bentuknya sangat sederhana, jadi Anda bisa memanfaatkannya dengan mudah.

>> Download Checklist Perkembangan Anak Usia Dini

SELAMAT!

Anda telah menyelesaikan Seri Pembelajaran 4.

Sekarang, Anda bisa lanjut ke Seri Pembelajaran 5 dengan materi pertamanya CARA MENGEVALUASI KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR HOMESCHOOLING.