5 Alasan Kenapa Ujian Nasional Seharusnya Tidak Perlu

Hapus ujian nasional sudah menjadi permintaan dan isu yang semakin keras disuarakan.

Baik oleh para orangtua, pengamat pendidikan maupun guru yang menganggap ujian nasional sudah tak lagi relevan bagi kemajuan sistem pendidikan Indonesia.

 

Saya sendiri memiliki keinginan keras ujian nasional harus dihapus. Berikut alasan un dihapuskan versi saya sebagai pribadi yang menginginkan pendidikan harus berjalan secara merdeka.

 

Pertama; ujian nasional selama ini dianggap sebagai representasi kompetensi anak secara utuh.

Coba Anda perhatikan bentuk soal ujian nasional. Multiple choice. Anak-anak kita hanya mengerjakan soal pilihan ganda.

Soal pilihan ganda itu hanya mengetes ranah kognitif level rendah, yakni tahu, mengerti dan hafal.

 

Kalau Anda ingin tahu kualitas pengetahuan seseorang terhadap suatu materi, ajak mereka diskusi, adu argumen atau minta mereka menulis.

 

Jadi, jangan bangga kalau dulu nilai ujian nasional anda bagus.

Jangan bangga kalau nilai ujian nasional anak anda bagus. Karena nilai di atas ijazah Anda tidak merepresentasikan kualitas pendidikan Anda secara utuh.

Kedua; ujian nasional terlalu banyak mendapat perhatian pemerintah sampai lupa membangun moral anak bangsa.

Kurikulum selalu diperbaiki, sistem penentuan kelulusan juga selalu diperbarui.

Dulu hanya ujian nasional, tapi sekarang kelulusan juga ditentukan oleh ujian sekolah berbasis nasional (USBN).

 

Tapi, isinya masih saja tentang mengetes ranah kognitif. Anak-anak diajak berlomba-lomba meraih nilai tinggi di semua mata pelajaran.

 

Di satu sisi, ada murid yang tidak memberi perhatian terhadap penjelasan guru saat di kelas.

Ketika ditegur, ia malah tidak terima. Guru dipukuli sampai KO.

Ada murid dan wali murid yang memukuli kepala sekolah sampai cedera karena di sekolah akan dilakukan tes keperawanan.

Yang jadi korban disini bukan hanya guru dan kepala sekolah. Anak-anak kita juga menjadi korban.

Korban dari kurikulum yang hanya menomorsatukan nilai bagus.

Korban dari sistem sekolah yang hanya mementingkan nilai tinggi di ijazah.

Sebaiknya, hapus ujian nasional supaya tak lagi muncul korban kurikulum.

Ketiga; ujian nasional dianggap sebagai tujuan pendidikan. Berapa banyak orang sekolah tapi tidak tahu tujuannya apa?

Mereka hanya menganggap sekolah sebagai alat untuk mendapatkan ijazah.

Dengan ijazah, kita bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah.

 

Inilah yang akhirnya membuat anak-anak berangkat sekolah dan belajar hanya untuk mengejar ijazah. Bukan untuk mendapatkan ilmu atau pendidikan yang lebih baik.

 

Pola pikir yang tepat adalah kita sekolah untuk mencari ilmu.

Setelah dapat ilmu kita gunakan untuk mengenali potensi dalam diri dan kita manfaatkan untuk mengatasi masalah yang ada di sekitar kita.

Berapa banyak orang pintar tapi tidak tahu bagaiamana cara memanfaatkan kepintarannya?

 

Ada sarjana manjemen, tapi hutangnya dimana-mana. Ada progammer, tapi sekarang jadi hacker untuk meretas duit orang.

 

Kenapa?

Karena mereka berangkat sekolah dengan tujuan yang tidak tepat.

Tidak ada yang salah kalau kita menaruh harapan pada sekolah. Bahwa dengan sekolah, saya harus punya kehidupan yang lebih baik. tidak salah.

Justru sangat benar. Tapi, kehidupan yang lebih baik tidak didapatkan dari ijazah. Melainkan dari ilmu.

Jadi, hapus ujian nasional agar anak-anak sadar bahwa sekolah bukan untuk mencari ijazah.

Keempat; ujian nasional membuat anak malas belajar.

Kenapa?

Karena ujian nasional yang dianggap sebagai proses evaluasi dan penentu kelulusan dilalui anak tiap 3 tahun sekali (untuk jenjang smp dan sma).

Artinya apa? Saya, Anda, teman-teman saya atau anak kita bisa saja dalam keseharian mereka tidak serius belajar.

Tapi, nanti saat tiba waktunya ujian nasional kita akan serius belajar. Mati-matian menghafalkan banyak materi dalam sekali waktu.

 

Ini kenyataan dan banyak terjadi di sekolah-sekolah Indonesia.

 

Karena pencapaian kita dalam keseharian tidak dianggap, tidak dijadikan acuan dalam mengukur kompetensi kita.

Satu-satunya hal yang dijadikan ukuran kan ujian nasional.

Ya sudah, belajar saja pas waktu mau ujian. Apakah anak salah?

Tidak, mereka tidak salah. Karena sistem sekolah dan kurikulum yang membuatnya bersikap seperti itu.

Kelima; ujian nasional membuat kita tidak menghargai proses.

Selama ini nilai ijazah dianggap sebagai gambaran kualitas dari seseorang selama belajar di sekolah.

Hapus ujian nasional karena anggapan di atas membuat kita jadi berpikir bahwa yang penting nilainya bagus.

Bagaimana proses kita dapat nilai bagus itu tidak dihargai.

Contoh sederhana;

  • kalau anak kita ulangan atau tes semesteran, ada yang belajar mati-matian dan dapat nilai 75
  • ada anak yang tidak belajar, hanya mengandalkan contekan dapat nilai 85

Kalau di sekolah, mana yang lebih mendapatkan penghargaan dan pengakuan? Pasti yang nilainya 85.

Lalu, bagaimana anak yang nilainya 75 padahal mereka belajar dan melewati proses yang tidak mudah?

 

Bisa jadi anak seperti ini lama-kelamaan juga malas belajar. buat apa saya susah-susah belajar kalau nyontek saja dapat nilai 85?

 

Ini adalah efek paling mengerikan, mengendalkan segala cara sekalipun curang, karena yang penting nilainya bagus.

Ujian nasional memang seharusnya tidak perlu diadakan. Karena sangat tidak adil bagi anak-anak kita.

Mereka menempuh pendidikan selama bertahun-tahun, tapi kompetensinya hanya diukur dalam waktu 4 hari.

Dan, seringkali dalam waktu 4 hari itu dijadikan acuan kualitas dari pendidikan seseorang. That’s unfair.

Sekali lagi, mengapa ujian nasional harus dihapus?

Karena sangat tidak menghargai proses belajar anak-anak kita.

*Baca juga, 5 Cara Ini Bisa Dijadikan Pengganti Jika UN Dihapus