Bagaimana Kebiasaan Buruk Bisa Terbentuk dalam Diri Anak?

Belief System adalah segala sesuatu yang kita yakini sebagai kebenaran. Sesuatu yang kita yakini sebagai kebenaran, maka kita akan sulit untuk mengubah keyakinan itu.

Belief System mempengaruhi self talk, persepsi, state dan emosi. Jadi, apa yang kita pikirkan sehari-hari, apa yang kita katakan pada diri kita sendiri dalam hati, sikap kita, kebiasaan kita, pola pikir dan pengambilan keputusan kita itu berdasarkan belief system.

Misal, anak-anak kita tidak percaya diri, mudah cemas, pemalas, mudah menyerah terhadap apapun atau mereka memiliki kebiasaan buruk tertentu yang kadang membuat kita gregetan sendiri.

Kita ingin bantu mereka mengubah hal itu agar anak-anak kita jadi lebih baik. Tapi, bagaimana mengubahnya Miss Ayu?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya perlu menjelaskan lebih dulu bagaimana belief system itu terbentuk dalam diri kita maupun anak kita. Karena kebiasaan buruk dan mindset anak-anak kita adalah bagian dari belief system.

Pertama, repetisi atau pengulangan

Segala sesuatu yang disampaikan secara berulang-ulang, tidak peduli itu salah atau benar, bahkan kadang tidak masuk akal, lama kelamaan akan kita percayai sebagai sebuah kebenaran.

Misalnya, kita sebagai orangtua jengkel melihat anak kita tidak mau mengikuti pembelajaran daring.

Bukannya disemangati, ditanya apa kesulitannya atau ditemani karena mungkin saja butuh bimbingan, lebih mudah bagi orangtua untuk berkata pemalas! Bodoh! dsb.

Kita berharap dengan berkata seperti itu, mereka akan tergerak untuk belajar. Memang nyatanya iya sih, mereka langsung jalan ambil gadget tapi lemas dan tidak ada gairah belajar.

Hati-hati! Apa yang kita katakan secara berulang-ulang akan terpatri dalam memori anak kita dan dijalankan oleh belief system itu tadi.

Sama-sama mengeluarkan tenaga untuk berbicara, lebih baik kita manfaatkan energi kita untuk mengucapkan harapan baik agar menjadi nilai yang baik pula dalam pikiran anak-anak kita.

Kedua, ide yang disampaikan oleh figur otoritas

Sewaktu SMP, saya pernah menjawab pertanyaan matematika yang dilemparkan oleh guru saya. Dan, jawabannya saya benar.

Sebelumnya, sepanjang beliau mengajar, saya tidak pernah menjawab pertanyaan dengan mengacungkan tangan.

Mungkin dari situ, beliau menganggap saya kurang kompeten, tidak paham atau tidak cukup percaya diri. Tapi, entah kenapa saat itu ada dorongan untuk angkat tangan dan saya menjawabnya.

Setelah itu, guru saya memuji. Beliau berkata, kamu pinter!

Anda pasti bisa membayangkan! Betapa saat itu hati saya berbunga-bunga. Seumur hidup belum pernah ada orang yang kemampuannya di atas saya, kemudian memuji saya.

Setelah itu, saya jadi rajin belajar matematika. Berharap dapat pujian lagi. heheheh…

Itulah salah satu manfaat dari “ide yang disampaikan oleh figur yang memiliki otoritas.

Sosok idola, figur yang kita kagumi, kita hormati, yang kita anggap memiliki kemampuan lebih baik dibandingkan kita, cenderung lebih mudah memasukkan ide bahkan sistem keyakinan baru.

Apalagi jika ide atau nilai-nilai baru ini disampaikan saat usia kita masih belum mampu berpikir rasional seperti balita, anak-anak dan remaja.

Ide tersebut seolah menjadi perintah tidak langsung, tapi langsung dikerjakan oleh pikiran kita.

Kita sebagai orangtua, guru, pemerintah, tokoh masyarakat, mereka termasuk figur yang memiliki otoritas. Jadi, mudah bagi mereka untuk memasukkan ide atau keyakinan baru.

Ketiga, emosi yang intens

Saat kita dalam kondisi emosional, kita juga mudah menerima ide atau nilai baru. Misalnya, saat kita sedang sedih, ketakutan, marah, sangat bahagia.

Anda pernah tidak, ikut sebuah pelatihan atau seminar dengan tema kesuksesan. Biasanya kita akan dibawa dalam kondisi emosional.

Ada instrumen musik pelan, menenangkan, kemudian sang trainer membuat sebuah ilustrasi yang membuat kita marah, sedih dan menangis.

Setelah suasana yang diinginkan itu terjadi, trainer akan memasukkan nilai-nilai baru. Kita diminta untuk lebih bersyukur, lebih semangat dsb.

Setiap kejadian, jika dibarengi dengan intensitas emosi yang tinggi, baik itu emosi negatif maupun positif, maka momen itu akan sulit untuk kita lupakan.

Dalam proses parenting misalnya, kita tahu ada banyak orangtua yang meminta anaknya belajar dengan keras. Kamu kalau tidak dapat nilai bagus, maka kamu akan bla bla bla.. kamu harus latihan terus, gimana nanti kalau tidak bisa masuk perguruan tinggi negeri dsb.

Nah, biasanya ancaman yang diucapkan orangtua ini menempatkan anak dalam kondisi emosional.

jadi, meskipun sang anak sudah lulus sekolah, sudah bisa masuk PTN, biasanya nilai-nilai yang diterapkan orangtuanya masih terbawa hingga dewasa.

Yakni, anak jadi over achiever. Selalu ingin terlihat menonjol dan berprestasi. Terkadang, jika itu tidak tercapai, biasanya dia akan sangat kecewa bahkan takut tanpa sebab.

Keempat, kondisi rileks alami otak

Manusia memiliki beberapa jenis gelombang otak, beta, alpha, tetha dan delta. 2 jenis yang paling sering muncul adalah gelombang alpha dan tetha.

Nah, dalam 2 kondisi otak ini manusia cenderung mudah dipengaruhi. Setiap hari, ada beberapa kali momen dimana kita berada dalam kondisi yang fokus dan tidak memikirkan hal lain.

Atau kita berada dalam kondisi sangat nyaman dan terhanyut. Misalnya, saya kebetulan suka nonton drama Korea.

Saat nonton, sudah pasti saya terhanyut, fokus dan seolah terhipnotis. Dipanggil tidak akan sadar, ada orang lewat di belakang kadang juga tidak ngeh dsb.

Sama halnya dengan anak kita, saat mereka sedang fokus main game. Otak mereka sedang berada dalam kondisi yang tenang, nyaman dan fokus.

Kemudian, kita teriak! Minta mereka untuk mandi, untuk belajar, untuk berhenti dsb. Itu metode yang kurang tepat.

Padahal, anak kita otaknya sedang terhipnotis oleh game. Maka, kita sebagai orangtua yang cerdas, dekati anak kita, kita bisikin dia!

Sayang, 10 menit lagi mandi ya.

Kalau sudah 10 menit, kita bisikin lagi. Sayang, 5 menit lagi mandi ya. Seharusnya seperti itu. Itu semacam perintah tidak langsung, tapi insyallah langsung dikerjakan.

Bukannya kebalik! Kita teriaki anak, kita minta dia berhenti main game. Padahal, saat anak ngegame itu kondisi yang bagus untuk memasukkan ide atau nilai baru.

Kelima, identifikasi kelompok atau keluarga

Orang terdekat kita adalah contoh yang terus kita amati. Kebiasaan, pola tingkah laku dan semuanya.

Kita sering melihatnya, bisa jadi kita akan melakukan hal yang sama seperti mereka.

Dari kelima syarat terbentuknya belief system dalam diri seseorang, ada satu hal unik yaitu orangtua dalam 5 kondisi tadi, hadir dalam diri anak.

Setiap hari, orangtua bersama anak-anaknya. Sangat memungkinkan bagi kita untuk melakukan pengulangan. Kita juga merupakan figur otoritas bagi anak.

Kita sering hadir dalam kondisi emosional anak, apapun itu. Kita juga sering hadir dalam kondisi rileks mereka, saat sedang menonton youtube, main game, bangun tidur, saat menjelang tidur dsb.

Orangtua juga adalah figur terdekat anak. Kita yang membersamai mereka tiap hari dan banyak waktu kita bagi dengan mereka.

Jadi intinya, penting bagi kita untuk memperhatikan apa yang kita ucapkan setiap hari, kebiasaan kita, pola pikir kita dsb karena itu membentuk karakter anak serta mempengaruhi masa depan mereka.