Konsep Diri Positif Membantu Melejitkan Prestasi Anak

konsep diri positif
konsep diri positif

Semua orang ingin sukses. Tapi, tak semua orang berani membuat keputusan dan mengambil resiko. Pernahkah Anda berpikir ingin maju, tapi muncul beragam rasa takut;

  • aku tak bisa
  • ini sulit
  • aku mungkin gagal
  • apa kata orang tentang diriku nanti dll

Kalimat negatif itu menghambat langkah Anda. Padahal, Anda punya ide luar biasa. Pada akhirnya, ide luar biasa itu diambil dan dieksekusi orang lain.

Anda melihat kesuksesan orang lain dengan ide itu, Anda menyesal dan berkata pada diri sendiri, kenapa dulu aku tak nekat saja?

Pepatah Inggris mengatakan, in the end we only regret the chances we didn’t take.

Apa sih penyebab kita menjadi ragu, tak berani membuat keputusan, takut gagal, takut ditolak dan tak berani menanggung resiko?

 

Penyebabnya adalah satu, konsep diri negatif.

 

Konsep diri adalah persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri. Konsep diri terbentuk melalui pengalaman, interaksi dengan lingkungan dan pengaruh orang-orang yang dianggap penting.

Konsep diri positif yang ideal dibangun sejak manusia dilahirkan. Masa kritisnya adalah saat anak-anak menginjak usia sekolah dasar.

Seseorang dengan konsep diri positif akan berpikir positif.

Dia menganggap kegagalan sebagai pelajaran agar bisa menjadi manusia yang lebih baik di masa depan. Dan, lebih berani mengambil keputusan.

Seseorang dengan konsep diri negatif cenderung negative thinking. Dia menganggap kegagalan berasal dari kesalahan orang lain.

Komponen Konsep Diri

Konsep diri terdiri atas 3 komponen;

  • Diri Ideal (Self Ideal)
  • Citra Diri (Self Image)
  • Harga Diri (Self Esteem)

Pertama, saya akan membahas DIRI IDEAL.

Jika Anda dilahirkan kembali, Anda ingin menjadi sosok seperti apa?

Apakah Anda ingin memiliki fisik seperti Raisa ditambah kepribadian positif dan bersemangat seperti Merry Riana serta memiliki keberanian menanggung resiko seperti ayah Anda?

Itulah yang dimaksud dengan diri ideal. Gabungan dari seluruh kepribadian berkualitas dari sosok yang Anda inginkan.

Saat Anda mengidolakan Merry Riana karena dia adalah sosok positif dan bersemangat, secara tak sadar Anda akan berperilaku mengarah pada kepribadian yang Anda inginkan itu.

Diri ideal ini terus berganti dan tak pernah tetap.

Anak-anak kita belum mengerti tentang diri ideal dan mereka tak bisa memilih diri idealnya sendiri. Orangtualah yang selama ini menentukan diri ideal untuk anaknya.

Kita sering berkata pada anak, ‘tuh lihat si Fulan dapat nilai 90 untuk matematika. itu baru namanya anak pintar.’

Kemudian, nilai 90 itu akan menjadi diri ideal bagi anak kita.

Kedua, saya akan membahas CITRA DIRI.

Saat Anda berdiri di depan kaca, apa yang Anda pikirkan mengenai diri Anda?

Apakah Anda melihat sosok yang percaya diri, cantik dan positive thinking? Dengan persepsi ini Anda bisa lebih optimal menggunakan potensi dalam diri Anda.

Atau Anda melihat sosok minder, peragu dan takut mencoba? Dengan persepsi ini Anda cenderung merasa gagal bahkan sebelum mencoba.

Cara pandang seseorang tentang dirinya sendiri inilah yang disebut dengan citra diri. Manusia akan selalu bertindak sesuai dengan persepsi tentang dirinya.

Sayangnya, persepsi kita tentang diri sendiri itu sering tidak tepat. Ada orang yang tidak percaya diri jika diminta berbicara di depan umum.

Ini sebenarnya bukan karena dia tak percaya diri, melainkan dia salah memandang kemampuan yang dimiliki.

Ketiga, saya akan membahas HARGA DIRI.

Seberapa besar Anda mencintai diri Anda? Semakin besar rasa cinta Anda kepada diri sendiri, maka semakin tinggi pula harga diri Anda.

Seberapa besar Anda menghormati dan menerima diri Anda apa adanya?

Semakin kita menerima diri dengan baik dan menghormatinya, maka semakin tinggi harga diri kita.

Seseorang dengan harga diri tinggi, mereka memiliki antusiasme yang besar dalam menjalani hidup.

Membentuk Konsep Diri

Anak Anda mendapat nilai 30 untuk ulangan matematika.

Kemudian, Anda kecewa hingga memberi label bodoh dan pemalas pada anak. Anda membandingkan anak sendiri dengan fulan teman sekelasnya yang lebih rajin.

 

Lihat, Fulan saja dapat nilai 90. Kamu sih malas belajar, makanya dapat nilai jeblok!

 

  • Nilai 90 adalah diri ideal yang Anda tentukan
  • Anda memberi cap bodoh dan pemalas. Inilah yang menjadi citra diri anak
  • Citra diri yang jauh dari diri ideal akan membentuk harga diri rendah

Akhirnya, terbentuklah konsep diri negatif dalam diri anak.

Terdapat 3 hal penentu yang membentuk konsep diri;

  • siapa yang membentuk
  • seberapa kuat emosi seseorang saat konsep dirinya dibentuk
  • seberapa sering pembentukan itu dilakukan

Siapa yang membentuk

Orangtua, guru, lingkungan sekolah, ustad, kakek-nenek adalah orang-orang yang dianggap memiliki otoritias bagi anak.

Apapun yang dikatakan orang-orang itu, anak akan cenderung mendengar, memikirkan dan merasakannya dalam hati.

Seberapa kuat emosinya

Jika kita mengatakan bodoh saat anak merasa sedih, maka kata bodoh itu akan masuk dan menancap kuat dalam pikiran anak.

Jika kita mengatakan hal-hal positif seperti memotivasi anak saat mereka sedang sedih, maka kalimat positif itu pun akan merasuk dalam pikiran anak.

Seberapa sering pengulangan dilakukan

Semakin sering Anda mengatakan bodoh pada anak, lama-lama ia akan terbiasa dan menganggap bodoh sebagai citra dirinya.


Jika selama ini anak malas belajar, prestasinya menurun, tak memiliki motivasi yang baik dalam mengerjakan tugas, jangan dimarahi, jangan dianggap bodoh dan pemalas.

Yang Anda lakukan itu justru membentuk konsep diri negatif dalam diri anak. Konsep diri ini dibawa anak hingga dewasa.

Karena di masa kecil kemampuannya sering diragukan, dianggap bodoh dan pemalas, maka saat dewasa nanti anak-anak jadi meragukan kemampuannya sendiri.

Merasa bodoh, sia-sia dan tidak ada yang bisa diubah.

Ini akan mempengaruhi jiwa struggle anak-anak kita. Mereka jadi mudah putus asa dan takut gagal bahkan sebelum mencoba.

Bandingkan dengan anak-anak yang mendapat dukungan dari orangtua berupa kalimat positif, memberi label positif, memaklumi kegagalan anak dan membantu anak belajar dari kegagalan untuk bangkit.

 

Kamu dapat nilai 40 ya pas ulangan matematika kemarin? Wah, ada sedikit kemajuan nih. Kemarin kan dapat 30. Ibu tahu ini tidak mudah. Tapi, ibu percaya pada kemampuanmu.

 

Kalau kalimat ini yang lebih sering diucapkan orangtua pada anak, anak akan termotivasi untuk belajar dan memperbaiki kesalahannya.

Inilah tombol yang perlu ditekan orangtua untuk melejitkan prestasi anak. Yakni, membentuk konsep diri positif.

Ingat! Kesuksesan anak tidak dimulai setelah mereka lulus kuliah, melainkan dimulai saat Anda membentuk karakter mereka.

Sekarang, lanjutkan dengan membaca ‘Tips Jitu Membangun Konsep Diri Positif’.