6 Tips Menanamkan Kejujuran pada Anak Anda

Bagaimana cara yang tepat menanamkan kejujuran pada anak? Seringkali orangtua mengeluhkan perilaku anak yang suka bohong, suka ngibulin dan tak berani berkata jujur.

Seorang penipu ulung berangkat dari kebiasaan berbohong kecil yang selalu ditolerir oleh lingkungan.

Sama seperti koruptor yang hobi mengeduk harta negara untuk dikumpulkan dan diakui sebagai kekayaan pribadi.

 

Awalnya mereka adalah anak-anak baik dan jujur. Karena tak mendapat pengarahan tepat saat mereka melihat lingkungan berkata bohong, akhirnya mereka meniru dan menganggapnya sebagai hal wajar.

 

Sangat disayangkan!

Anak-anak terlahir dalam keadaan suci dan mengarah pada kebaikan.

Tapi, seiring berjalannya waktu mereka belajar mengenai ketidakjujuran karena melihat perilaku orangtua dan lingkungan.

menanamkan kejujuran pada anak
menanamkan kejujuran pada anak

Mengajarkan kejujuran menjadi hal yang sangat penting dilakukan oleh orang tua saat ini.

Karena sudah banyak diantara kita yang tak berani jujur karena ingin melindungi harga diri atau melepaskan diri dari tanggung jawab.

Menanamkan Kejujuran pada Anak

Lalu, bagaimana cara menanamkan nilai kejujuran pada anak? Agar mereka tak jatuh dalam kebiasaan berbohong.

Berikut adalah detil langkah-langkah yang bisa Anda lakukan.

1. Introspeksi Diri

Kita semua memang pernah berbohong. Tapi, bukan berarti kebohongan bisa dimaklumi.

Karena sekali berbohong, kita akan kembali berbohong untuk menutupi kebohongan sebelumnya.

Kita tak bisa membiarkan kebohongan anak berlarut-larut dan memaklumi alasan mereka.

 

Entah agar tidak menyakiti perasaan orangtua atau memiliki alasan yang dianggap baik, berbohong tetaplah virus yang pasti akan menggerogoti moral manusia.

 

Sebaiknya Anda segera introspeksi diri. Apakah selama ini sudah menjadi orang yang berani jujur dan mengakui kesalahan?

2. Hindari Berbohong Kecil dan Terus Menerus

Anak-anak awalnya begitu bersih hingga suatu hari mereka melihat sesuatu yang kotor dari orangtua dan lingkungannya.

 

Tapi, lingkungan dan orangtua menganggap sesuatu yang kotor itu WAJAR, jadi tetap membiarkan dan tak membersihkannya.

Karena lingkungan dan orangtua yang CUEK terhadap kekotoran itu, anak yang melihatnya pun cuek hingga menganggapnya sebagai kewajaran.

Contohnya, Anda pergi berangkat kerja dan tidak ingin anak menangis.

Anda berbohong pada anak untuk pergi sebentar dan berjanji untuk segera kembali. Padahal, Anda bekerja 8 jam dan pulang pada sore hari.

Bagaimana jika anak tumbuh menjadi seorang yang berprinsip seperti Anda?

 

Berbohong kecil tidak masalah, yang penting harga diri aman. Berbohong terus-terusan tidak masalah, yang penting tanggung jawab tidak terlewatkan.

 

Mau punya anak yang seperti itu?

3. Mengakui Kesalahan di Depan Anak

Cara menanamkan kejujuran pada anak yang ketiga adalah berani mengakui kesalahan.

Sayangnya, kita sering merasa MALU DAN GENGSI saat harus jujur karena telah melakukan kesalahan, terlebih lagi di depan anak.

Kita selalu ingin menunjukkan SISI TERBAIK agar anak menghormati kita. Dengan sikap seperti itu, kita menganggap mereka hanya akan melihat kebaikan-kebaikan kita.

Sayangnya, pola asuh seperti ini tidak baik bagi anak karena mereka bisa menirunya.

 

Mereka bisa salah mengira bahwa menutupi kesalahan demi gengsi itu baik.

 

Mereka bisa salah mengira bahwa menjadi munafik demi keuntungan pribadi atau agar dianggap baik oleh orang lain itu wajar.

4. Mengajarkan Cara Memaafkan dan Meminta Maaf

Hakikat maaf dan memaafkan menunjukkan pada kita bahwa orang yang baik bukanlah mereka yang tidak pernah berbuat salah.

Melainkan, mereka yang pernah melakukan kesalahan, tapi BERANI JUJUR pada diri sendiri dan orang lain untuk mengakui kesalahannya.

Supaya berani jujur, anak harus dibiasakan meminta maaf saat berbuat kesalahan. Serta rendah hati menerima permintaan maaf orang lain saat merasa disakiti.

5. Jangan Merespon Kesalahan Anak dengan Marah

Dampak buruk apa yang terjadi jika orangtua selalu menyudutkan dan menyalahkan anak? Anak-anak jadi malas berkomunikasi dengan orangtuanya.

Karena selalu mendapat respon yang bernada menjudge, anak-anak bisa TRAUMA menceritakan masalahnya pada kita.

Karena perasaan takut dimarahi, takut dicap bandel atau takut dilarang, anak mulai malas menceritakan masalahnya pada orangtua.

 

Tapi, saat orangtua mendesak, anak akan mencoba mencari alasan alias berbohong untuk memberikan jawaban yang bisa memuaskan hati Anda.

 

Inilah karakter yang orangtua ciptakan karena terburu-buru marah terhadap perilaku anak yang salah.

6. Jangan Menyindir atau Menginterogasi

“Wah, nilainya bagus banget. Juara 3 ini, tapi dari urutan bawah!”

“Makanya kalau ayah suruh kamu belajar nggak usah dituruti. Main aja terus di luar rumah.”

Meminta anak sadar terhadap kesalahannya dengan menggunakan sindirian bisa menyakiti perasaannya.

 

Hal ini juga bisa menimbulkan kebingungan karena Anda tidak menjelaskan apa kesalahannya dan sikap seperti apa yang sebenarnya Anda inginkan.

 

Menyindir dan menginterogasi takkan membuat anak merasa nyaman dalam mengakui kesalahan. Mereka justru akan menghindar dari pertanyaan Anda.


Itulah beberapa cara mengajarkan kejujuran pada anak. Tips ini sangat bisa diterapkan sejak anak usia dini.

Hampir semua tips harus dimulai dari orangtuanya. Karena cara membentuk karakter anak yang paling tepat adalah melaluI KETELADANAN ORANGTUA.