Cara Jitu Mendidik Anak Homeschooling di Era Digital

Digital natives adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak-anak yang lahir, tumbuh dan berkembang bersama teknologi.

Anak-anak ini tak hanya hidup di lingkungan sosial nyata, seperti keluarga, tetangga dan sekolah.

 

Mereka juga bersosialisasi di dunia maya melalui media sosial, komunitas online dan situs berbagi video, seperti youtube.

 

Paparan produk teknologi setiap hari, tentu saja mempengaruhi pandangan, sikap dan kebiasaan anak sehari-hari.

Kecenderungan dan minat mereka ini perlu kita ketahui, sehingga kita bisa mendidik anak diera digital secara tepat.

Hal ini membuat pola kegiatan dan minat anak berbeda dengan orang dewasa yang lahir di era sebelumnya. Beberapa kecenderungan digital natives antara lain;

1. Menyukai Hal-hal Bersifat Visual dan Penuh Gerakan

Karena terbiasa menggunakan produk teknologi yang menawarkan visual menarik dan penuh warna, anak-anak ini jadi lebih menyukai hal-hal yang bersifat visual dan penuh gerakan.

Itulah kenapa, anak-anak zaman sekarang tidak begitu antusias dengan gaya belajar duduk diam atau materi dalam bentuk teks yang statis.

2. Memiliki Kemampuan Multi-Tasking

Orang-orang zaman dulu tidak biasa melakukan satu pekerjaan sembari mengerjakan hal lain. Mereka cenderung fokus menyelesaikan satu pekerjaan.

Digital natives berbeda.

Mereka memiliki kemampuan multi-tasking, seperti mengerjakan PR sambil mendengarkan musik, berdiskusi sembari menonton tv bahkan berkirim pesan lewat aplikasi messenger.

3. Mencari Informasi Instan dan Up to Date

Mereka yang terbiasa berselancar di internet tidak suka membaca materi secara runtut. Mereka lebih suka metode membaca cepat untuk segera menemukan intisari dari sebuah informasi.

Mereka memang banyak membaca, tapi hanya mencari berita yang up to date dan bersifat instan.

4. Menonjol dan Aktif

Anak-anak yang lahir dan berkembang bersama teknologi tidak menyukai gaya belajar yang membuat mereka diam dan tak bisa terlibat.

 

Fokus mereka sangat rendah untuk hal-hal yang memaksa mereka duduk dan mendengarkan.

 

Anak-anak ini lebih menyukai kegiatan yang total melibatkan mereka. Anda bisa membuat mereka melompat kegirangan dan antusias dalam mengerjakan sesuatu jika Anda meminta mereka untuk aktif serta terlibat langsung.

5. Aktif Berjejaring

Digital natives memang berbeda dengan generasi sebelumnya yang menyukai sosialisasi secara tatap muka.

Anak-anak kita saat ini lebih tertarik menjalin hubungan melalui internet, kemudian melakukan ‘kopdar’ atas dasar minat atau hobi yang sama.

Misalnya, mereka bertemu melalui komunitas online karena menyukai grup musik yang sama. Jika kedekatan sudah terjalin, mereka akan merencanakan pertemuan di dunia nyata.

6. Tak Bisa Lepas dari Teknologi

Anak yang lahir mulai tahun 90an hingga sekarang, bisa mati gaya apabila jauh dari teknologi.

Mereka sangat bergantung pada produk-produk teknologi. Jika diibaratkan, gadget adalah sahabat terbaik bagi mereka.

 

Selama gadget itu ada di tangan, anak-anak takkan merasa kesepian.

 

Jika Anda berusaha menjauhkan mereka dari produk digital, justru hal ini akan berakibat buruk bagi eksistensinya. Mereka akan sulit berkarya dan menunjukkan kemampuannya.

 

Tiap generasi memiliki minat dan pola kegiatan yang berbeda tergantung pada lingkungan dimana mereka tumbuh.

 

Lalu, Apa yang Perlu Orangtua Lakukan?

Di satu sisi, kita melihat teknologi sebagai alat yang menguntungkan. Di sisi lain, kita juga disuguhkan kenyataan bahwa teknologi bisa mendatangkan mudharat bagi anak.

Jadi, apa yang perlu kita lakukan supaya anak bisa mengambil sebanyak-banyaknya manfaat dari teknologi sekaligus terhindar dari dampak buruknya?

Pertama, orangtua harus memperkuat ikatan emosional dengan anak.

Beberapa orangtua mungkin merasa canggung atau bingung jika harus mengungkapkan rasa sayangnya pada anak.

 

Kita lebih sering mengungkapkan rasa cinta pada anak dengan cara yang ekstrim seperti memarahi, melarang tanpa memberikan penjelasan yang jelas bahkan menuntut mereka sesuai dengan standar kita.

 

Inilah yang sering membuat anak malas berkomunikasi dengan orangtuanya. Dan, lebih percaya pada teman-temannya.

Orangtua harus mampu menjadi teladan serta menjadi sahabat yang setia mendukung dan mendengarkan anak.

Kedua, orangtua harus melek teknologi.

Untuk membangun rasa hormat dan kepercayaan anak pada orangtua, Anda bisa menggunakan trik ini.

Yakni, terus belajar memperluas wawasan, khususnya dalam bidang yang diminati anak.

 

Jika digital natives sangat mencintai teknologi, suka berjejaring via media sosial dan gemar main games, maka Anda perlu menguasainya.

 

Jika memang Anda kesulitan mempelajari bidang yang digemari anak, ya tidak perlu memaksakan diri.

But, at least Anda harus memberikan perhatian dan mengetahui dampak dari bidang yang mereka minati.

Ketiga, membuat aturan main terkait gadget, komputer dan internet.

Gadget, internet dan komputer adalah milik orangtua. Jika anak ingin menggunakannya, buatlah kesepakatan bersama terkait waktu penggunaannya.

Pembatasan waktu penggunaan sangat efektif untuk mengontrol kegiatan berinternet anak-anak, sehingga Anda bisa lebih mudah memantau apa yang mereka lakukan.

*Yuk download Ebook ini. Di dalamnya Anda akan menemukan 5 kecenderungan anak jaman now lainnya yang aktif main internet ketimbang berinteraksi dengan Anda. Dengan mengetahui kecenderungan mereka, Anda bisa menyusun kegiatan sesuai dengan minat tersebut. GRATIS!

mendidik anak diera digital

Pada artikel selanjutnya, kami akan mengajarkan Anda, CARA MEMANFAATKAN INTERNET SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN HOMESCHOOLING.