Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Tukang Bully?

mengapa orang membully
mengapa orang membully

Penindasan atau bullying seringkali dialami anak-anak dan remaja.

Ini yang kemudian membuat orangtua khawatir dan mencari cara agar anak terhindar dari bullying baik di sekolah maupun lingkungan tempat tinggal.

Sebelum membagikan cara agar terhindar dari bullying, terlebih dulu saya akan menjelaskan pada Anda penyebab mengapa orang membully atau bisa menjadi tukang bully.

1. Kemungkinan Memiliki Masalah Mental

Untuk mengetahui apakah anak memiliki masalah mental, Anda harus mendatangi psikolog atau konsultan parenting lebih dulu.

 

Anak yang memiliki masalah mental atau kejiwaan bisa menjadi tukang bully yang benar-benar tak punya hati.

 

Para pelaku bullying dengan masalah mental ini biasanya dalam keseharian tidak terlihat nakal, memiliki perilaku yang baik dan cenderung diam.

Inilah yang seringkali membuat orangtua heran dan kaget saat anaknya ternyata membully teman sendiri.

2. Kurang Mendapat Perhatian

Anak-anak sangat suka dihargai, diperhatikan dan dibanggakan.

Jika kebutuhan ini tidak mereka dapatkan, maka mereka mampu melakukan apapun untuk mendapatkannya.

 

Ada anak yang loadingnya lama saat belajar di sekolah, hingga prestasi akademisnya menurun.

 

Bahkan, ada anak yang mengganggu temannya di kelas supaya kebutuhan perhatiannya bisa didapatkan.

3. Meniru Orangtua dan Lingkungan

Penyebab mengapa orang membully adalah pengaruh dari orangtua dan lingkungan.

Anak adalah cerminan orangtuanya.

Jika anak Anda suka mencaci maki orang lain, kemungkinan besar mereka meniru Anda.

Jangan marah atau mengelak dulu. Perhatikan keseharian Anda sendiri.

 

Orangtua seringkali tidak sadar bahwa mereka adalah teladan bagi anak-anaknya.

 

Kita merasa menjadi pemimpin dan berkuasa di rumah, hingga bebas menggunakan wewenang untuk marah, meluapkan emosi dan menyakiti perasaan anak melalui caci maki.

3. Dulunya adalah Korban

Beberapa anak yang dulunya adalah korban bullying, mereka merasa berhak untuk balas dendam.

Mereka mungkin pernah mengalami kekerasan dari orangtua atau temannya sendiri.

4. Pola Asuh yang Tidak Tepat

Tiap anak memiliki tangki cinta yang mana isinya hanya bisa diisi oleh orangtua.

 

Tangki cinta anak harus diisi dengan perlakuan penuh kasih sayang, perhatian, waktu yang berkualitas, bahasa yang menenangkan, pujian, barang atau hadiah yang disukai anak.

 

Isi dari tangki cinta ini tergantung kepribadian anak.

Perhatikanlah, bagaimana cara anak meminta tangki cintanya diisi ulang?

Apakah anak sering pamer hasil kerjanya pada Anda? “Ayah, aku tadi habis nyapu halaman. Gimana, bersih kan?”

 

Itu berarti, isi tangki cintanya berupa pujian dan kata-kata yang menenangkan.

 

Maka, Anda harus sering memuji anak dengan kadar yang tepat karena ini adalah kebutuhan mereka.

Apakah anak Anda sering sakit-sakitan dan meminta Anda menungguinya sepanjang waktu?

 

Itu berarti, isi tangki cintanya berupa waktu yang berkualitas.

 

Maka, Anda harus sering-sering menghabiskan waktu berkualitas bersama anak.

Kendaraan bermotor akan sulit bergerak jika diisi dengan bahan bakar yang tidak tepat.

Begitu juga anak Anda. Mereka akan mogok dan ngamuk jika tangki cintanya tidak segera diisi dengan isian yang tepat.

Ingat! Kepribadian tiap anak berbeda, maka isi dari tangki cinta anak pun berbeda-beda.

5. Dampak Negatif TV, Media Sosial dan Game Online

Tidak ada yang salah dengan tontonan kekerasan di TV, game online, film atau media sosial.

 

Yang salah adalah orangtua yang tidak memberikan pengawasan.

 

Tontonan kekerasan justru bisa menjadi edukasi positif bagi anak. Bahwa apa yang ditampilkan bukanlah hal yang baik.

Jika anak tidak mendapatkan pendampingan dan pengawasan, mereka bisa penasaran dan mencoba melakukan kekerasan pada orang-orang terdekatnya yang terlihat lebih lemah.

*Baca Juga, Kenali Ciri-ciri Korban Bullying, Siapa Tahu Anak Anda Korban!