5 Alasan Kenapa Anak Perlu Merasakan Kegagalan

Peristiewa dalam kehidupan kita tidak ada yang bisa memprediksikan. Hari ini senang, besok belum tentu.

Hari ini sedih, besok bisa jadi kita mendapatkan keberuntungan yang membuat kita bahagia. Hari ini kita mendapatkan kemudahan dalam hal tertentu, dalam hal lain mungkin saja kita harus berjuang.

Terkadang, kita sudah merencanakan suatu hal seperfect mungkin. Sudah bersikap sebaik mungkin. Sudah berusaha seoptimal mungkin, tapi kejadian buruk yang tidak kita harapkan terjadi.

Dan, hal itu di luar kendali kita.

Tidak ada yang salah dengan hal itu. Kita tidak salah. Orang lain juga tidak salah. Memang ada peristiwa yang terjadi dalam hidup kita dan itu di luar kendali kita.

Sebagai orang awam, kita menyebut ini sebagai KEGAGALAN. Suatu hal yang tidak sesuai rencana, tindakan dan harapan.

Orang awam ya. Karena kalau saya pribadi, menyebut ini sebagai TANTANGAN.

Dan, menyenangkan memiliki hidup yang penuh dengan tantangan seperti ini. Karena hidup kalau monoton, semua hal selalu sesuai prediksi tentu akan membosankan.

Anda pikir, orang-orang sukses di luar sana, mereka bisa berkembang seperti sekarang, karena apa? Karena mereka bergerak. Tidak stuck in the moment.

Mereka menganggap kegagalan sebagai tantangan yang harus diselesaikan. Dan, mereka harus bergerak untuk menyelesaikan tantangan itu.

Nah, yang menjadi masalah adalah banyak orang dewasa diantara kita yang menghindari kegagalan. Takutnya bukan main dengan kegagalan.

Ketakutan ini membuat mereka bahkan tidak berani mencoba apapun. Karena resiko dari setiap percobaan hanya ada 2, gagal atau berhasil.

Dan, banyak diantara kita yang hanya berpikir tentang kegagalan daripada keberhasilan. Bagaimana, jika gagal? Bagaimana jika tidak berhasil?

Ternyata.. ketidakberanian dan ketidakpercayaan diri dalam mencoba sangat dipengaruhi pola asuh orangtua kita dulu.

Karena terlalu sayang pada anaknya, mereka tak ingin anaknya terluka dan sedih karena gagal. Sehingga, kita cenderung melindungi anak-anak kita dari kegagalan.

Padahal, kegagalan penting bagi anak kita. Karena.. ada beberapa manfaatnya. Apa saja itu? Sebelum saya jelaskan, saya mau iklan bentar.

Bagi orangtua yang tertarik bagaimana memulai, menjalani dan mengevaluasi proses homeschooling, bisa mengikuti Pelatihan Homeschooling.

Biasanya, Pelatihan Homeschooling berkeliling ke beberapa kota besar di Indonesia seperti Surabaya, Semarang, Jogja, Bandung dan Jakarta.

Untuk mengetahui jadwal terdekat di kota Anda, silakan bisa hubungi nomor konsultasi di 0816333903. Atau klik chat WhatsApp otomatis berikut ini. > Saya Daftar Pelatihan Homeschooling <

Alasan pertama kenapa kegagalan penting bagi anak adalah karena kegagalan membuat anak kita lebih kuat dan ulet.

Anak-anak kita tentu memiliki cita-cita ingin jadi apa di masa depan nanti. Dan, Anda tahu sendiri jalan menuju cita-cita tidak selalu mulus seperti jalan tol.

Lebih tepatnya, seperti jalan pegunungan yang penuh tanjakan, turunan, tikungan bahkan terkadang jalannya tidak ramah karena banyak lubang.

Kegagalan pertama, mungkin membuat anak kita menangis. Tapi, dia percobaan kedua bisa dipastikan dia akan lebih tabah dibandingkan pada percobaan pertama.

Alasan kedua, kegagalan memberitahu anak kita jalan mana yang buntu.

Sehingga, saat kembali menempuh perjalanan, dia tak perlu membuang waktu untuk melakukan hal sama. Karena dia sudah tahu, itu membuatnya gagal.

Saat di awal membuat channel YouTube Pelatihan Homeschooling, saya sangat optimis ini akan berhasil dalam waktu dekat.

Tiap hari saya rajin ngevlog dengan menambahkan judul yang saya pikir menarik. Hari demi hari, bulan demi bulan, hingga setahun sudah usia channel YouTube Pelatihan Homeschooling.

Tapi, subscribernya tidak lebih dari 1000 orang dengan view yang kurang lebih 20-50 setiap hari. Dan, awalnya saya merasa gagal disitu.

Kemudian, saya coba untuk review. Mungkin cara saya membahasnya tidak enak, mungkin judulnya tidak benar-benar menarik. Mungkin saya perlu membagikannya ke lebih banyak media sosial dan lebih keras mengiklankannya.

Kegagalan yang terjadi selama 1 tahun, membuat saya paham bahwa saya tidak seharusnya menggunakan cara-cara kuno yang sebelumnya selalu saya gunakan.

Dan, itulah fungsinya kegagalan.

Alasan ketiga, kegagalan membentuk karakter anak kita.

Ralph Waldo Emerson, penulis esai asal Amerika Serikat pernah berkata semua kehidupan adalah eksperimen. Semakin banyak berksperimen, semakin baik.

Dan, tentu saja saat bereksperiman kita tak bisa lepas dari yang namanya kegagalan. Salah satunya adalah karakter rendah hati.

Keberhasilan yang kita dapatkan, tidak akan membuat kita lupa daratan. Karena kita ingat, untuk mencapainya butuh perjuangan dan bantuan dari banyak orang.

Selain itu, kegagalan juga membuat mental anak-anak kita lebih tahan banting.

Alasan keempat, kegagalan membantu anak kita belajar bagaimana memecahkan masalah.

Jangan buru-buru ulurkan tangan Anda untuk anak-anak ketika eksperimennya tidak berhasil. Anda tentu masih ingat, ketika bayi-bayi Anda berlatih berjalan.

Saat terjatuh, Anda tidak membantunya. Anda justru menyemangatinya. Coba perhatikan, bayi Anda akan mencoba bangkit lagi dengan cara yang berbeda.

Mungkin dengan berpegangan pada kaki-kaki kursi di dekatnya. Atau jongkok lebih dulu sambil dua tangan mungilnya menyentuh lantai dengan kuat.

Dan, tahukah Anda? Ternyata tiap manusia sudah dihadiahi Tuhan, sebuah insting berjuang. Jadi, sebagai orangtua tidak perlu takut anak akan menghadapi kegagalan. Justru, kekuatan terpendamnya akan keluar saat itu.

Alasan kelima adalah setiap kegagalan merupakan batu loncatan menuju keberhasilan.

Ini mungkin kalimat klasik.

Tapi, cukup membantu menyemangati anak-anak kita. Bahwa eksperimennya meski gagal ternyata makin mendekatkan mereka pada keberhasilan.