8 Mindset Homeschooling yang Wajib Anda Miliki

mindset homeschooling
mindset homeschooling

Homeschooling bukan sekedar alat meraih tujuan pendidikan. Misalnya, Anda ingin anak memiliki sertifikasi dalam bidang teknologi dan informasi. Anda menggunakan homeschooling sebagai alat untuk meraih tujuan tersebut.

Ternyata dalam praktiknya, Anda tak sekedar mengatur kurikulum dan metode belajar serta memilih guru privat. Di dalamnya, Anda terpaksa harus mendalami karakter anak, bagaimana minat dan gaya belajarnya.

Kita tak hanya berbicara mengenai akademis, tugas sudah selesai atau belum dan kita tak hanya membahas bagaimana hasil ulangan.

Kita akan berkegiatan dan belajar bersama anak. Maka perintah dan tuntunan bukan bahasa yang tepat.

Kita perlu tahu cara melakukan pendekatan agar anak nyaman dan terbuka berkomunikasi dengan kita. Kenyamanan dan keterbukaan membantu proses belajar berjalan lebih optimal.

Kita harus terus belajar mengenali sudut pandang anak, bagaimana menyampaikan sesuatu yang bermakna melalui keseharian, menurunkan ego (harapan) kita untuk anak dan lebih memperhatikan apa yang mereka butuhkan.

8 Mindset Homeschooling

Karena bukan hanya hal teknis yang kita lakukan, maka saya putuskan untuk menyebut HS sebagai mindset atau pola pikir yang menjadi dasar atau acuan dalam bertindak terkait pendidikan anak.

Dalam memulai homeschooling yang terpenting adalah kita atur mindset lebih dulu mengenai anak dan pendidikan. Karena pola pikir yang benar akan membantu kita mengambil tindakan benar, jelas dan terarah.

Berikut adalah 8 mindset homeschooling yang perlu Anda ketahui dan terapkan dalam proses mendidik anak.

1. Tiap anak unik memiliki minat, kecepatan dan gaya belajar berbeda

Dulu kita mengenal teori tabularasa yang menganggap anak adalah kertas kosong dan kita sebagai guru atau orang tua harus jadi penulisnya. Kita menulis dan menggambar apapun yang kita suka dan harapkan ada pada diri anak.

Tiap penulis memiliki gaya penulisan berbeda.

  • Ada yang menulis dengan santai dan pelan dengan kata-kata yang enak dibaca
  • Ada yang menulis dengan menekan terlalu dalam dengan kalimat kasar yang sulit dihapus

Saat jadi penulis, kita lupa memperhatikan tekstur dari kertas tersebut. Ada kertas yang tebal dan tahan air, ada kertas yang tipis dan mudah robek.

Beginilah nasib anak di sekolah. Mereka dianggap memiliki kecintaan terhadap hal yang sama, yakni akademis. Mereka dianggap memiliki kemampuan dan kecepatan belajar sama, hingga metode mengajar dan proses evaluasi pun disamakan.

Kita tak memperhatikan kalau anak adalah pribadi yang khas, sehingga treatment yang diberikan pun harus khas menurut masing-masing pribadi.

Homeschooling memiliki asumsi berbeda mengenai anak. Anak adalah INDIVIDU UNIK.

Mereka memiliki minat, karakter, kecepatan dan gaya belajar berbeda. Mereka juga tumbuh dan berkembang dengan latar belakang berbeda, sehingga kebutuhannya pun ikut berbeda.

Saat Anda memiliki mindset ini, Anda tak lagi membandingkan satu anak dengan anak lainnya. Jika anak tetangga nilai matematikanya 90, sedangkan anak Anda 30. Maka, itu tak jadi masalah.

“Kemampuan matematika anakku tidak tertinggal. Dia punya kecepatan belajar angka berbeda dengan anak lainnya. Dia juga punya kelebihan dalam hal lain.”

2. Pendidikan adalah proses mengeluarkan potensi anak

Definisi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, Pendidikan adalah tuntunan. Menuntun hidup anak sesuai kodratnya masing-masing. Bukan menuntut anak sesuai kecakapan atau kehendak pendidik.”

Yang perlu kita perhatikan dalam proses pendidikan adalah melihat ke dalam diri anak. Memperhatikan apa minat, bagaimana kebutuhan masa depan dan anak serta latar belakang mereka.

Sebagai contoh, anak yang lahir, tumbuh dan berkembang di pantai HARUS MEMPELAJARI HAL BERBEDA dengan anak yang memiliki latar belakang kota, desa dan pegunungan.

  • Anak kota dekat dengan dunia industri. Maka, pelajaran yang tepat adalah sesuai dengan konteks kehidupan mereka.
  • Anak pantai dekat dengan dunia pariwisata. Maka, bekal yang tepat adalah mengelola pantai agar bisa mendatangkan lebih banyak wisatawan.

Dua hal itu adalah contoh bekal sesuai latar belakang anak. Lalu, bagaimana jika anak memiliki cita-cita yang tak berkaitan dengan latar belakang mereka?

Ya, tidak masalah. Kita arahkan anak sesuai minatnya sembari tetap memberikan bekal sesuai konteks rill kehidupan mereka. Supaya ilmu lebih melekat dan mudah diserap anak.

3. Belajar dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja

Sekolah mengondisikan kita untuk memiliki mindset bahwa belajar itu harus di ruangan khusus, di waktu yang sudah ditentukan, dengan orang yang expert di bidangnya.

Homeschooling memiliki prinsip yang sama dengan apa yang pernah dipaparkan oleh Bapak Pendidikan kita, “Jadikan setiap tempat seperti sekolah dan setiap orang sebagai guru.”

Karena makna belajar yang sebenarnya adalah proses meningkatkan kemampuan, kebijaksanaan dan pengetahuan kita setelah melakukan suatu hal. Sekalipun hal yang dilakukan itu tergolong sepele.

Saat kita mengobrol dengan tetangga, kita dapat info kalau di jalan tertentu menuju Jakarta ada banyak lubangnya dan sedang macet. Jika ingin cepat sampai, kita perlu cari jalan lain.

It’s learning by chatting. Proses belajarnya tak harus pakai buku, cuma ngobrol sama tetangga. Tapi, kita dapat informasi baru yang sangat membantu.

Ini bisa disebut dengan proses belajar. Kalau kita tekankan pada anak bahwa belajar sama dengan membaca, mendengarkan, mencatat dan duduk manis, lama-lama mereka MUAK dengan istilah belajar. Karena aktivitas itu monoton dan membosankan.

4. Belajar tidak mengenal usia

Mindset homeschooling selanjutnya berkaitan dengan long life education. Berapa banyak diantara kita yang menganggap setelah lulus sekolah sama dengan tamat belajar?

Ini pemikiran yang mengerikan karena mematikan semangat belajar anak. Membuat mereka berhenti belajar saat hari Minggu, tanggal merah dan masa liburan.

Anak homeschooling belajar tiap hari melalui keseharian, buku-buku, orang yang ditemui, program tv, pengalaman orang tua, cerita keluarga mereka dll.

Prinsip pendidikan kita adalah membangun kesadaran dan kebutuhan akan belajar tanpa mengenal usia.

5. Pendidikan adalah memerdekakan hati, fisik dan pikiran

Banyak diantara orang tua menggantungkan harapannya setinggi mungkin pada sekolah. Bahwa setelah sekolah, anak harus mampu meraih hidup yang layak.

Namun, harapan ini seringkali sia-sia. Karena sekolah lebih banyak menghasilkan orang bingung daripada anak yang tahu apa tujuan hidupnya.

Sekolah lebih banyak mengajarkan hal-hal akademis yang bersifat teoritis. Padahal, zaman sekarang kita lebih membutuhkan kemampuan memimpin, berkomunikasi, bernegosiasi, berpikir kritis dan kreatif.

Hal-hal yang tidak ada relevansinya dengan dunia nyata dan tak bisa diterapkan dalam hidup mendapat banyak perhatian. Sedangkan, kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk memerdekakan hidup malah tak pernah diajarkan.

Melalui pendidikan, kita harus sadar apa potensi diri. Melalui pendidikan, kita harus paham bagaimana cara menggunakan potensi diri tersebut.

>> Klik Banner di Bawah Ini <<

6. Belajar tak terbatas ruang dan waktu

Homeschoolers bisa belajar dimana saja dan kapan saja. Tak harus ada ruang khusus, meja, bangku dan buku-buku yang berjajar rapi. Kebebasan yang keenam adalah mindset homeschooling.

Kalau ingin belajar tentang sapi, kita tak hanya membaca buku tentang sapi. Kita bisa mengajak anak datang ke kandang sapi.

Belajar dengan cara melihat langsung, mencium aroma, memberi makan sapi, memperhatikan bagaimana peternak sapi bisa menghasilkan banyak uang dari kandang itu.

Dengan cara ini, anak-anak bisa lebih kritis dan kreatif karena belajar di lapangan secara langsung.

Seperti kata Mark Twain, “Seseorang yang memiliki kucing lebih mengetahui kucing secara utuh, ketimbang mereka yang hanya membaca buku tentang kucing.”

7. Membangun kesadaran belajar tanpa tuntutan atau perintah

Hal yang paling saya suka dari Homeschooling adalah membiarkan anak belajar mengikuti rasa ingin tahunya. Orang tua atau orang dewasa di sekitar anak hanya bertindak sebagai fasilitator. Itulah mindset homeschooling yang ketujuh.

Misalnya, anak kita tertarik untuk membantu memasak di dapur. Maka, kita perlu menyediakan peralatan memasak untuk mereka.

Mengenalkan mereka dengan ‘medan dapur’ yang akan dihadapi, seperti panas, cipratan minyak goreng, bau hangus, bau bumbu-bumbu yang akan menempel di rambut dan pakaian.

Selanjutnya, kita biarkan mereka melakukan eksplorasi di dapur.

Apakah nantinya anak akan menjadi koki atau tidak, itu terserah dia. Hal terpenting yang kita ajarkan adalah keterampilan sesuai dengan apa yang mereka SUKAI DAN BUTUHKAN.

Orang tua atau guru tidak memiliki hak untuk menuntut, memerintah atau memasang standar. Karena 3 hal itu hanya akan mematikan semangat belajar anak.

8. Orang tua adalah petani

Mindset homeschooling selanjutnya adalah peran orangtua sebagai petani. Orang tua adalah petani yang menanam dan merawat benih baik dalam diri anak. Kita bukan pemahat yang menggambar dan memahat anak sesuai selera kita.

Sebagai petani, kita perlu menjaga kesuburan tanah tempat benih itu ditabur, menjaga tanaman agar terhindar dari hama atau gangguan lain, memberi nutrisi cukup agar tanaman tumbuh tanpa hambatan dan semakin membaik.

Saat kita dianugerahi Tuhan benih mangga, maka kita tak bisa memaksa benih mangga itu untuk tumbuh menjadi pisang.

Jika paksaan yang kita lakukan, yang terjadi adalah mangga tak bisa tumbuh secara optimal. Dan, mereka tetap tak bisa menjadi pisang.

Homeschooling memposisikan orang tua sebagai fasilitator yang menyediakan fasilitas belajar dan membantu anak membuat keputusan. Bukan si pembuat keputusan yang memaksakan kehendak pada anak.


Jika anak Anda masih sekolah, tapi Anda menerapkan 8 mindset di atas itu berarti keluarga Anda sudah menjalankan proses homeschooling.

Homeschooling atau sekolah, tetaplah miliki mindset homeschooling. Karena homeschooling sejatinya bukan sekedar alat meraih tujuan pendidikan.

Melainkan, pola pikir yang menjadi dasar Anda dalam bertindak dan mengambil keputusan terkait pendidikan anak.