INILAH 6 Model Homeschooling dan Cara Memilih yang Tepat untuk Anak

Model homeschooling adalah wadah, bungkus atau cover dari proses homeschooling yang kita jalankan.

Jika kita memilih satu model, maka proses pendidikan yang kita jalankan harus mengikuti prinsip dan cara kerja dari model tersebut.

Apa saja sih model homeschooling yang ada dan bagaimana cara kita memilih satu model yang tepat untuk kebutuhan keluarga kita?

Berikut penjelasannya.

1. Sekolah di rumah (School at Home)

Model ini menjadikan sekolah sebagai acuannya.

Ciri yang terlihat dari School at Home adalah;

  • Bersifat terstruktur dan berjenjang
  • Menggunakan kurikulum nasional atau internasional
  • Mata pelajaran kompleks seperti sekolah
  • Menggunakan buku pelajaran sebagai sumber materi belajar
  • Ada ujian atau evaluasi periodik

Orangtua mengambil model school at home sebab sekolah adalah model pendidikan yang paling banyak digunakan di Indonesia.

Berdasarkan pengalaman orangtua pribadi, sistem sekolah lebih familiar.

Inilah yang memudahkan orangtua dalam menerapkan model school at home.

2. Unschooling

Model homeschooling yang kedua ini dipelopori oleh John Holt, pendidik asal Amerika yang mengkritik kegiatan sekolah pada pertengahan 1960an.

Ia berpendapat bahwa sekolah tak mampu mengeluarkan potensi dan melemahkan antusiasme belajar anak.

Anak-anak menghafal banyak materi bukan karena senang dan butuh dengan ilmunya. Melainkan, takut jika mendapat nilai buruk atau tak lulus.

Inilah yang membuat John Holt mengembangkan model unschooling.

Unschooling memiliki pandangan yang bertolak belakang dengan school at home. Prinsipnya;

  • Keinginan belajar bersifat alami
  • Lingkungan atau alam adalah tempat belajar yang terbaik
  • Keterlibatan orangtua/orang dewasa secara berlebihan bisa mengganggu proses alami anak

Sekalipun masih kecil, anak-anak tetaplah individu yang opini dan perasaannya perlu diperhatikan.

Berdasarkan prinsip ini, model unschooling berjalan lebih alami dan mengikuti kebutuhan anak.

Orangtua bertindak sebagai fasilitator yang menuntut anak menjadi pembelajar aktif nan mandiri.

Selain School at Home atau Unschooling, ada beberapa model homeschooling yang menggunakan pemikiran dari tokoh pendidikan.

3. Classical Homeschooling

Model ini mengacu pada model pendidikan abad pertengahan Yunani.

Classical homeschooling lebih mengedepankan studi literatur, sejarah, aktivitas intelektual yang terstruktur dan disiplin.

Materi yang diajarkan lebih banyak menggunakan karya-karya besar dari tokoh abad pertengahan.

Melakukan riset, menulis, berdiskusi dan berdebat adalah gaya belajar yang sering dipraktikkan.

Umumnya, sistem belajar homeschooling ala classical ini menekankan pada kemampuan berpikir logis dan kritis baru diajarkan pada tingkat sekolah menengah atas.

Dalam Classical Homeschooling, hal ini justru menjadi inti pembelajaran yang dilakukan sepanjang waktu.

model homeschooling

4. Charlotte Mason

Charlotte Mason adalah seorang pendidik yang peduli dengan pendidikan anak.

Ia meyakini bahwa belajar bukanlah mengurung anak dalam lingkungan buatan. Melainkan;

  • Memanfaatkan kesempatan-kesempatan dalam lingkungan keseharian anak
  • Membiarkan anak belajar dari orang-orang dan benda-benda di sekitarnya secara bebas

3 hal yang mendasari model homeschooling Charlotte Mason antara lain;

  • Kuantitas – Anak membutuhkan banyak pengetahuan
  • Variasi – Anak membutuhkan pengetahuan yang beragam sebab materi monoton bisa mematikan hasrat belajar anak.
  • Kualitas – Anak membutuhkan pengetahuan dan gaya belajar yang bermutu. Bukan sekedar buku teks yang penuh teori dan tak bisa diterapkan di dunia nyata.

5. Montessori

Tokoh pendidikan asal Italia, Maria Montessori memiliki gagasan-gagasan unik mengenai pendidikan anak.

Gagasan ini kemudian menjadi inspirasi para orangtua dan sekolah untuk menerapkannya.

Umumnya, tata cara homeschooling dengan gagasan Montessori adalah;

Anak Sebagai Subyek Pendidikan Bukan kurikulum atau guru yang menjadi pusat perhatian. Anaklah yang harus menjadi aktor utama pendidikan. Tidak perlu pengawasan ketat dari orang dewasa. Kita hanya perlu menciptakan lingkungan kondusif dan fleksibel untuk memudahkan anak dalam proses pembelajaran.
Lingkungan Terkontrol Materi dan perangkat belajar yang digunakan disusun teratur serta disesuaikan dengan usia anak.
Materi Nyata dan Imajiner Model Montesori banyak menggunakan alat peraga. Dengan tujuan anak-anak jadi lebih mudah memahami materi pelajaran. Melalui benda nyata, barulah anak diarahkan ke contoh-contoh imajiner.
Interaksi Lintas Usia Montessori tidak membagi kelas sesuai usia. Model homeschooling ini membagi anak-anak berdasarkan kurikulum yang telah ditempuh. Jadi, anak-anak bebas berinteraksi dengan lintas usia.

6. Eclectic Homeschooling

Ini merupakan model yang netral. Sebab ianya memanfaatkan prinsip ‘mix and match‘.

Eclectic homeschooling mengambil kebaikan dan kemudahan dari tiap model, kemudian mengkombinasikannya sesuai kebutuhan atau kondisi keluarga.

Lalu, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Pemahaman ini memberikan kesempatan bagi kita untuk memilih model homeschooling sesuai tujuan pendidikan keluarga.

Selanjutnya, jika kita sudah menentukan satu model pelajarilah dengan baik.

Apa manfaatnya untuk tumbuh kembang dan pengetahuan anak. Apa resikonya bagi anak dan orangtua.

Ingat! Tidak ada model terbaik dan terburuk.

Jadikanlah anak dan keluarga Anda sebagai indikator baik atau tidaknya sebuah model.

Dalam proses pembelajaran, perhatikan apakah anak menikmati proses belajarnya, apakah minat dan potensinya mampu keluar, apakah sikapnya membaik?

Itulah yang patut diperhatikan.

Orangtua pun harus bersikap FLEKSIBEL. Ada keluarga yang sudah memilih model school at home.

Setelah diterapkan,ternyata anak merasa tak nyaman dan tertekan. Akhirnya, orangtua mencari model lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan karakter anak.

Kejadian seperti ini WAJAR bagi praktisi homeschooling.

Seiring berlajannya waktu, semakin sering berbagi pengalaman dengan praktisi lain pemahaman mengenai homeschooling makin bertambah, kita akan melakukan berbagai penyesuaian.

Tujuannya agar proses pendidikan berjalan efektif dan anak-anak menikmatinya.

Untuk mengetahui apakah homeschooling diakui dan dilindungi hukum, kita akan belajar tentang >> LEGALITAS HOMESCHOOLING.


***Jika Anda tertarik dengan homeschooling, tapi masih ragu dalam memulainya serta bingung bagaimana menjalankannya, Anda bisa ikuti program Pelatihan Homeschooling yang kami selenggarakan tiap bulan di kota-kota besar di Indonesia.

Untuk membaca materi apa saja yang akan disampaikan dan diajarkan oleh Konsultan Homeschooling, silahkan klik >> LIHAT MATERI PELATIHAN <<

Untuk menanyakan mendaftar jadi peserta Pelatihan Homeschooling atau konsultasi, silahkan klik tulisan di bawah ini.

>> Daftar Pelatihan Homeschooling dan Konsultasi <<