Kenapa Orang Pintar di Sekolah, Tapi Gagal di Kehidupan Nyata?

Kenapa banyak orang pintar sewaktu sekolah, tapi gagal dalam kehidupan nyata?

Saya atau Anda pasti punya banyak teman sekolah yang dulu pintar banget. Jago matematika, fisika, kimia dan mata pelajaran sakral lainnya.

Mata pelajaran sakral maksud saya adalah mata pelajaran yang diujikan dalam ujian nasional.

Jadi, teman-teman kita yang dulu waktu sekolah ini selalu unggul dalam hal nilai akademis. Tapi, anehnya banyak diantara mereka yang dalam kehidupan nyata setelah lulus sekolah, hidup mereka justru biasa saja.

Kalah sama orang-orang yang dulunya tidak pintar secara akademis. Kira-kira kenapa ya?

Pertama, orang-orang yang kita anggap pintar sewaktu sekolah itu cuma pintar teori.

Mereka tidak pernah mempraktikkannya. Pintar hitung-hitungan. Pintar baca rumus dan menyelesaikan soal. Tapi ya sudah. Cuma sebatas teoritis pengetahuannya.

Kedua, orang yang hanya pintar secara akademis cenderung terlalu banyak berpikir alias tidak berani take action.

Anda tahu pahlawan devisa kita? TKI dan TKW.

Mereka dulu tidak pintar waktu sekolah, pengetahuannya biasa saja. Tapi banyak yang sukses di negeri orang dengan cara merantau. Karena nekat. Tidak banyak mikir, ini nanti berhasil nggak ya?

Ini nanti sukses nggak ya?

Seperti kebanyakan pengusaha-pengusaha sukses di dunia.

Mereka tidak mikir ini nanti akan terjadi hits atau tidak. Mereka hanya menyukai apa yang dikerjakan dan punya keyakinan dengan apa yang dikerjakan.

Jadi, jangan sampai kita yang bertitel s1, s2, s3 kalah nekat sama yang cuma lulusan SD atau SMP, tapi berani berangkat ke luar negeri.

Padahal, bahasa inggris saja mereka tidak bisa. Tapi, mereka punya keyakinan bahwa hidup saya harus berubah dan lebih baik.

Ketiga, sekolah mendoktrin anak-anak bahwa pintar akademis saja sudah cukup.

Buktinya, tiap hari kita jejali dengan materi akademis, cara belajarnya hafalan.

Tidak ada waktu buat minat, hobi atau potensi. Fokus belajarnya cuma buat lulus ujian dengan nilai baik. Lama-lama anak kita menganggap tahu banyak theory is enough.

Tapi setelah terjun ke masyarakat mereka kaget. Lhoh kok gini ya. Beda sama yang diajarin di sekolah.

Di masyarakat kita harus pintar berkomunikasi, bernegosiasi, harus punya inisiatif, berani banyak mencoba, harus kreatif dan bisa baca situasi.

Kalau tidak, kita hanya akan jadi pengikut. Tidak bisa bersaing dengan manusia-manusia lainnya yang lebih gigih dan kritis.

Keempat, terlalu banyak mengandalkan teori.

Karena sejak sekolah kita dididik untuk banyak baca buku, menghafal banyak materi dalam sekali waktu, tapi jarang diajak praktik atau melihat lapangan secara langsung, akhirnya ini jadi kebiasaan sampai kita dewasa.

Tiap kali kita mau bertindak, kita cari tahu teorinya dulu.

Kita buat banyak perhitungan, pertimbangan. Tidak ada yang salah dengan hal itu.

Tapi, kalau tiap hari hanya berhitung, kapan take actionnya? Kita akan selalu menunda keputusan dan tidak berani menanggung resiko.

Maunya hidup aman seperti kebiasaan baca buku. Hanya berimajinasi, tapi tidak berani ambil kendali.

Kelima, tidak punya kecakapan sosial.

Ada satu pepatah mengatakan, kita hanya perlu untuk terus memperbanyak kenalan.

Tiap orang yang kita kenal akan membawa kita pada pengalaman dan pembelajaran. Dan memang benar, orang hidup itu bekalnya bukan cuma soal matematika teoritis, biologi teoritis, kimia teoritis.

Kita perlu ngobrol, berinteraksi, peka dengan lingkungan dan masalah orang lain serta mudah diajak kerjasama.

National Association of College and Employees in USA (2002) pernah mengungkapkan tentang 20 kriteria orang sukses di dunia.

Kriteria pertama adalah memiliki kemampuan komunikasi yang baik, kriteria kedua kejujuran, kriteria ketiga kemampuan kerjasama. Dan Anda tahu, nilai atau IPK kita itu urutannnya ada di nomor 17.


Dari 5 pemaparan saya tadi, saya ingin menyimpulkan bahwa kalau anak anda sekarang masih sekolah, jangan biarkan mereka sekedar sekolah dan berkutat dengan tugas akademisnya.

Ajak mereka keluar rumah, menikmati lingkungan, bergaul, belajar dengan cara praktik langsung.

Tapi, kalau Anda terlanjur sebal dengan sekolah dan tak lagi bisa percaya pada institusi ini, Anda bisa ketemu saya di pelatihan homeschooling.

Kita akan belajar bagaimana caranya mendidik dan mengajar anak sendiri di rumah sesuai dengan minat, kebutuhan dan potensi anak.

Karena kalau orang tua sendiri gurunya, kita bisa melakukan banyak eksplorasi untuk pendidikan anak. Tidak cuma diajak duduk, mendengarkan ceramah dan menghafal hal-hal yang tidak bisa diterapkan di dunia nyata setelah lulus sekolah.

>> Daftar dan Ikuti Program Pelatihan Homeschooling Selama 1 Hari (12 Jam) <<