Bikin Kapok! Ini 5 Masalah Selama Pembelajaran Daring

Masalah Selama Pembelajaran Daring

Jadi, apakah Anda adalah orangtua yang masih bertahan menyekolahkan anak selama masa pandemi?

Beberapa orangtua sudah beralih untuk memilih homeschooling. Baik itu ikut lembaga maupun diajari sendiri oleh orangtuanya di rumah.

Tapi, masih lebih banyak orangtua yang memilih SETIA pada sekolah formal. Tidak ada yang salah dengan keputusan tersebut, mungkin kondisi itu memaksa mereka untuk tetap setia pada sekolah.

Nah, selama 1 tahun terakhir ini saat kita belajar secara daring ternyata ada beberapa masalah yang dialami baik itu para orangtua, murid maupun pihak sekolah dalam hal ini GURU.

Dan, saya cukup prihatin dengan masalah serta berbagai tantangan yang dialami oleh mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan ini.

Kebetulan, beberapa waktu lalu saya sharing dengan teman-teman kuliah saya, ngobrolnya di grup WhatsApp begitu, kemudian saya tanya, selama pandemi dan anak-anak belajar online, kalian ada kendala gak?

Teman-teman kuliah saya ini mengajar di pedesaan, bukan di perkotaan. Jadi, masalah yang dialami anak-anak, wali murid dan sekolah cukup kompleks.

Kalau di kota, selama pandemi dan proses pembelajaran daring mungkin tidak mengalami banyak kendala ya. Tapi, di pedesaan saya baru sadar ternyata kendalanya banyak sekali.

Saya pikir selama ini baik-baik saja, karena saya menyaksikan anak-anak begitu damai dan tenang saat bermain bukan di jam sekolah.

Nah, dari percakapan dengan teman-teman saya itu, saya buat rangkuman setidaknya ada 6 tantangan utama yang dialami oleh mereka yang terjun langsung di dunia perdaringan.

Yang pertama, masalah keuangan

Yang paling sering dikeluhkan oleh orangtua adalah, kenapa kita masih tetap diminta untuk bayar full sedangkan anak-anak sama sekali tidak masuk sekolah?

Beberapa orangtua meminta keringanan dari sekolah, seperti bayar setengah atau sekalian dikasih gratis.

Kenapa orangtua bisa berkata seperti ini? Karena mereka menganggap para guru tidak ada effort untuk memberikan pembelajaran pada murid. Orangtua menganggap, anak-anaknya libur karena disuruh belajar sendiri di rumah.

Itulah kenapa, mereka minta digratiskan saja sekolahnya!

Yang kedua, anak-anak tidak mengerjakan tugas online

Saya dapat banyak laporan, jika anak-anak tidak peduli dengan tugas mereka. Makin bandel, makin bebal, makin sulit dikontrol dan diatur.

Tugas-tugas online bahkan ada yang tidak dikerjakan sejak semester yang lalu. Mereka hanya absen dan saat ditanya mengenai tugasnya “pada gak ada suara.” Alias hening.

Ini menyedihkan! Tingkat kemalasan mereka meningkat berkali lipat karena pengawasan yang kurang dari pihak sekolah maupun orangtua.

Yang ketiga, wali murid tidak memiliki HP android

Seperti yang saya jelaskan, pembelajaran daring di perkotaan mungkin tidak akan mengalami banyak kendala.

Berbeda dengan di pedesaan yang mana orangtua mereka penghasilannya masih sangat pas-pasan. Yang mereka pikirkan setiap hari adalah bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari, boro-boro mikir HP android maupun kuota.

Mereka saja terkadang belum mampu mengoperasikan HP android. Banyak anak yang orangtuanya tidak memiliki HP android, akhirnya mereka menumpang belajar di HP android temannya.

Bagaimana coba kalau sudah begini? Jelas pembelajaran seperti ini tidak akan berjalan efektif dan efisien.

Mau belajar saja harus ke rumah teman dan pinjam HP android. Ya kalau temannya baik hati pakai banget, boleh numpang tiap hari.

Yang namanya manusia, hatinya itu di dalam, jadi tidak ada yang tahu isi hatinya seperti apa kalau ditumpangi setiap saat.

Nah, kadang kendala-kendala seperti inilah yang kemudian dijadikan alasan baik oleh murid maupun orangtuanya.

Jadi, kalau anaknya tidak mengerjakan tugas kemudian ditanya oleh guru, mereka akan menjawab.

Bagaimana mau belajar buk, gak punya HP! Dan, ini akan semakin meningkatkan kemalasan anak-anak dalam belajar karena minimnya fasilitas belajar.

Yang keempat, orangtua tidak peduli dengan pembelajaran daring

Saya katakan, ini problem di pedesaan ya.

Karena penghasilan mereka yang pas-pasan, otomatis fokus utama mereka bukan pendidikan anak.

Fokus utama mereka adalah bagaimana caranya bertahan hidup. Bagaimana agar besok pagi, masih bisa makan.

Orangtua semacam inilah yang harapannya sangat tinggi terhadap sekolah! “Saya sekolahkan anak saya ya biar mereka pintar dan jadi orang. Biar jadi pegawai, gak susah seperti saya. Kalau di rumah, saya masih harus ngajarin mereka, buat apa sekolah?”

Jadi, orangtua tipe ini tidak peduli dengan proses pembelajaran daring. Mereka kurang memperhatikan bagaimana kemajuan anak-anaknya selama pandemi ini.

Tahunya ya kerja, dapat uang buat makan, beli baju dan bayar sekolah.

Pendampingan dalam proses belajar selama daring, istilah apa itu?

Jadi, tidak mudah para guru menghadapi tantangan semacam ini di desa.

Yang kelima, orangtua tidak mendampingi anak

Sewaktu saya ngobrol dengan teman-teman saya, saya tanya pada mereka. Mana yang akan kalian pilih;

  1. Kembali sekolah dengan protokol kesehatan atau
  2. Tetap belajar secara daring tapi guru diberikan pelatihan mengajar efektif selama pandemi dan orangtua diberikan sosialisasi serta pelatihan pendampingan belajar daring di rumah

Teman saya di grup WhatsApp itu ada 13 orang dan semuanya menjawab kembali ke sekolah.

Karena jika tetap belajar secara daring kemudian orangtua diberikan pelatihan pendampingan belajar daring di rumah, tetap TIDAK BISA!

Kenapa bisa begitu?

Karena para wali murid ini rata-rata lulusan SD, SMP dan paling mentok SMA. Mereka belum paham bahwa keberhasilan anak di sekolah itu butuh dukungan orangtua khususnya dukungan psikologis.

Mereka tidak bisa mengajari anak-anaknya sendiri pelajaran dari sekolah. Jadi, proses pembelajaran daring di rumah dimana orangtua diharapkan bisa memberikan pendampingan pada anak, itu sedikit mustahil diterapkan di desa.

====================================

Jadi, itulah 5 tantangan yang dihadapi oleh murid, orangtua maupun guru selama pembelajaran daring.

Persis seperti harapan dari teman-teman saya yang merupakan pengajar, saya pribadi lebih suka pembelajaran tatap muka.

Apa gak bahaya miss belajar di luar ruangan!

Semua itu tergantung dari bagaimana cara kita menjaga diri. Bagaimana para sekolah menerapkan protokol kesehatan dan memastikan tiap murid mengikuti pembelajaran new normal.

Kalau menunggu corona selesai baru sekolah akan dibuka kembali, pertanyaannya kapan?

Corona tidak akan pernah selesai!

Yang bisa kita lakukan saat ini adalah beradaptasi dan hidup berdampingan dengan corona. That’s it!