Pendidikan Kontekstual, Konsep Belajar Menyenangkan Selama Pandemi

pendidikan kontekstual

Dari kata dasarnya saja, saya yakin Anda sudah bisa menebak secara kasar apa itu pendidikan kontekstual.

Berdasarkan KBBI, kontekstual bermakna berhubungan dengan konteks. Konteks sendiri berarti situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian.

Alah apa sih Miss Ayu, ribet!

Baiklah, intinya Pendidikan Kontekstual adalah konsep belajar yang mengkaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata.

Melalui konsep belajar seperti ini diharapkan, anak-anak kita lebih mudah memahami informasi baru karena mendorong siswa mengaitkan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh sederhana, kita ingin mengenalkan anak-anak kita pada warna. Kita bisa mengajak anak-anak untuk membantu mengambil pakaian yang dijemur, kemudian melipatnya bersama-sama.

Kita lipat pakaian dan kita kelompokkan pakaian-pakaian tersebut sesuai dengan warnanya. Nah, ini namanya konsep belajar kontekstual karena kita menghubungkan antara materi pelajaran dengan keseharian anak-anak kita.

Contoh lain, masih dalam kondisi yang sama yakni melipat baju. Kebetulan ada baju warna hitam. Kita bisa tanya ke anak kita, kamu ingat gak sewaktu kamu pakai kaos warna hitam ini di siang hari, kenapa rasanya lebih panas daripada warna lainnya?

Anak kita mungkin akan menyahut, iya ya.. kenapa lebih panas daripada kaosku yang putih ini?

Dari sini, kita bisa jelaskan pada anak. Bahwa benda berwarna hitam, seperti baju, dia menyerap semua panjang gelombang dalam cahaya putih dan tidak memantulkannya.

Saat baju menyerap semua cahaya matahari, energi yang terbawa oleh cahaya itu akan hilang ke dalam baju dan tidak pernah terlihat lagi.

Sebagai gantinya, cahaya yang terserap akan berubah menjadi bentuk energi lain yakni PANAS.

Setelah ngobrol seperti itu, kita bisa lanjutkan dengan membuat sebuah eksperimen, membuat catatan dsb.

Terkadang, ada materi pelajaran dengan istilah-istilah yang tidak familiar di telinga.

Istilah yang tidak familiar, kemudian cara penyampaian materinya secara konvensional yaitu ceramah, lalu anak-anak kita belajar dengan cara menghafal.

Ya sudah, mereka jelas akan sulit memahami materinya.

Jika kita menerapkan konsep belajar KONTEKSTUAL, saya yakin anak-anak kita akan lebih mudah memahami. Karena kita mengaitkan materi pelajaran dengan aktivitas sehari-hari mereka.

PENDIDIKAN KONTEKSTUAL

Sederhana, kan? Sebagai orangtua, kita hanya perlu sedikit lebih kreatif untuk mencari materi pelajaran ini bisa dihubungkan dengan keseharian yang mana ya?

Nah, pendidikan kontekstual ini sebenarnya muncul dari tokoh pendidikan klasik asal Amerika Serikat yaitu John Dewey.

Beliau mengajukan kurikulum dan metode pendidikan yang berhubungan dengan minat dan pengalaman anak.

Intinya, pendidikan kontekstual ini cara untuk membuat anak-anak merasa baik dalam belajar, saat apa yang dipelajari berhubungan dengan apa yang telah mereka ketahui sebelumnya.

CARA MENERAPKAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

Yang pertama, menjalin hubungan atau keterkaitan.

Menjalin hubungan disini bukan berarti pacaran dsb ya. Tapi, menjalin hubungan antara materi dengan keseharian.

Kunci dari pendidikan kontekstual hanya 1, yakni keterkaitan keterikatan.

Ada banyak hal di sekitar kita yang bisa dikaitkan. Misalnya, anak kita menangis ketika mengupas bawang merah.

Aktivitas ini bisa dikaitkan dengan pemahaman anak mengenai sains bahwa bawang merah mengeluarkan zat tertentu yang bisa membuat kita menangis.

Tidak hanya itu, melalui mengupas bawang merah anak kita juga bisa belajar bahwa air mata itu ada 3 jenis.

Air mata emosi, ini biasanya keluar kalau ada tekanan emosi seperti sedih, marah, kecewa maupun bahagia.

Ada lagi air mata basal yang memang tersimpan di mata kita dan fungsinya adalah untuk melembabkan dan menutrisi mata kita.

Satu lagi, air mata refleks yang fungsinya melindungi mata kita dari iritasi seperti debu, asap maupun bawang.

Nah, seru kan belajar sesuai dengan kontekstual. Anak kita akan lebih nyambung dengan materi pelajaran karena sesuai dengan real kehidupan mereka.

Yang kedua, pengalaman. 

Cara belajar paling efektif adalah belajar dari pengalamannya sendiri. Agar dia cepat menganalisis masalah dan bisa memperbaiki apa-apa yang kurang tepat.

Misalnya, anak kita belajar berkebun bibit pakcoy. Ada benih yang dalam waktu 3-4 hari sudah tumbuh, ada yang hingga 2 minggu tidak tumbuh.

Dari sini anak kita bisa belajar, kira-kira apa yang membuat benih pakcoy tidak tumbuh sesuai siklusnya. Oh mungkin, karena benihnya ditanam terlalu dalam di media tanamnya.

Jadi, benihnya sulit tumbuh atau bisa saja media tanamnya terlalu asam karena sudah beberapa kali dipakai.

Ketiga, mengajukan pendapat atau pertanyaan

Konsep belajar kontekstual tidak harus terstruktur, kita yang harus siapkan dsb.

Tapi, bisa juga muncul secara conditional ketika anak tiba-tiba mengajukan pertanyaan. Misalnya, dia bertanya kenapa nyamuk diciptakan Tuhan.

Padahal, dia tidak membawa keuntungan. Nyamuk lebih banyak membawa kerugian, karena bikin orang sakit.

Dari sini kita bisa mengajarkan tentang filosofi hidup pada anak. Kamu tahu gak, perusahaan-perusahaan besar produsen pembasmi serangga seperti HIT, BAYGON, TIGA RODA, berapa itu jumlah karyawannya?

Berapa orang yang hidup dari perusahaan itu? Berapa orang yang menggantungkan hidupnya dari perusahaan itu?

Ribuan. Banyak sekali. Mereka menjemput rejeki dari adanya seekor nyamuk. Coba kalau nyamuk tidak ada, mau kemana orang sebanyak itu jemput rejeki.

Jadi, berbagai pertanyaan atau pendapat anak-anak kita bisa jadi ide untuk memulai konsep belajar kontekstual.

Yang keempat, kerjasama

Karena sedang belajar di rumah, tentu bekerjasamanya harus dengan Anda.

Orangtua harus berperan sebagai rekan kerja yang membantu memecahkan masalah. Jadi, kita bekerja bareng disini bukan hanya memberikan perintah pada anak.

Nah, itu dia pendidikan kontekstual yang bisa membantu anak mencapai tujuan-tujuan belajarnya. Selamat praktik dan semoga membantu.