5 Cara Ini Bisa Dijadikan Pengganti Jika UN Dihapus

Sebelumnya, saya sudah membahas mengenai alasan mengapa un harus dihapus.

Yang jadi pertanyaannya, kalau penghapusan un benar terjadi, lalu bagaimana?

  • Bagaimana kita bisa mengukur prestasi anak didik?
  • Bagaimana cara kita menentukan apakah seseorang dianggap layak lulus dalam satu jenjang?

Berikut solusinya dari saya.

Solusi pertama; jika un dihapuskan jangan hanya menilai prestasi akademis anak.

Perhatikan juga keseharian mereka.

Perhatikan bagaimana anak-anak kita menikmati proses belajar selama ini.

  • Apakah kegiatan anak cukup bervariasi? Seperti tidak sekedar mendengarkan, mencatat atau duduk manis.
  • Apakah kegiatan anak di sekolah mampu membuat mereka bersikap lebih manis dan memiliki karakter lebih baik?
  • Apakah anak menikmati proses belajar itu? Ataukah mereka sering mengeluh karena PR terlalu banyak, terlalu sering menghafal dsb.

Solusi kedua; melakukan penilaian selama 6 tahun penuh untuk SD atau 3 tahun penuh untuk SMP dan SMA.

Artinya, jangan sekedar melakukan tes periodik dalam jangka waktu 6 bulan sekali.

Karena faktanya, banyak sekali anak yang tidak serius belajar dalam keseharian, tapi tiba-tiba pas selesai ujian semester teman-temannya pada kaget.

 

Karena nilainya bagus-bagus semua dan nggak remidi. Padahal anak ini dikenal malas selama di kelas.

 

Bisa jadi, dalam keseharian mereka jarang belajar.

Kemudian pas tiba jadwal ujian semesteran mereka mengaktifkan memori kerjanya untuk belajar dengan cara sistem kebut semalam atau menggunakan cara curang, seperti mencontek.

That’s unfair, rite?

Sangat tidak adil bagi anak-anak yang memang rajin dan disiplin belajar.

Jadi, penghapusan UN harus dilakukan.

Ganti dengan proses evaluasi yang bisa disebut dengan track record.

Dari awal sampai akhir masa kurikulum, kita catat secara berkesinambungan hasil proses belajar anak.

Solusi ketiga; jadikan visi pendidikan dalam kurikulum sebagai acuan.

Jangan mendoktrin anak bahwa kita sekolah hanya untuk mengikuti ujian nasional.

Kita sekolah untuk mendapatkan ijazah. Bukan!

Sekolah adalah tempat kita belajar dan menempa diri agar bisa menjadi manusia yang lebih baik serta bermanfaat bagi sesama.

 

Jangan jadikan UN sebagai acuan standar kelulusan.

 

Perhatikan visi pendidikan dalam kurikulum dan jadikan itu sebagai acuan keberhasilan proses pendidikan.

Solusi keempat; jadikan proses pembelajaran di sekolah sebagai tempat untuk mengidentifikasi potensi anak.

Kita sekolah bayar mahal, menghabiskan tenaga dan waktu bertahun-tahun hanya untuk mengikuti ujian nasional dan mendapatkan ijazah?

 

Ini sangat lucu. Karena kalau ini tujuan Anda, nggak perlu berangkat sekolah.

 

Belajar di bimbel, ikuti metode belajar mereka disana, yakni drill and practice kemudian daftarkan diri Anda di PKBM atau SKB yang menyelenggarakan ujian nasional.

Biayanya murah, tidak menghabiskan banyak tenaga dan pikiran.

 

Tapi, saya tahu tujuan Anda belajar di sekolah bukan hanya untuk ijazah. Yang lebih penting adalah membantu anak-anak kita sadar terhadap potensi yang dimiliki.

 

  • Siapa diri saya, apa kemampuan dan kelebihan yang saya miliki?
  • Apa yang bisa saya lakukan dengan kelebihan ini agar berguna untuk diri sendiri dan orang-orang di sekitar saya?

Solusi penghapusan un adalah membangun kesadaran diri dan sosial anak kita, itu yang lebih penting.

Bukan mengajak mereka berlomba-lomba mengejar nilai di selembar kertas yang mana itu hanya gambaran dari kemampuan berpikir level rendah.

Solusi kelima; semua anak harus lulus. Tidak ada istilah tidak lulus.

Sejak pertama kali masuk sekolah dasar anak-anak harus sudah dibantu melakukan identifikasi minat dan bakat.

Hal ini terus dilakukan secara berkesinambungan dari sekolah dasar sampai mereka SMA.

Setelah mereka masuk jenjang SMA, mereka harus sudah bisa menentukan mau kemana saya?

  • Mau langsung kerja
  • Buka usaha sendiri; atau
  • Lanjut kuliah

Baik dunia kerja maupun pendidikan tinggi, sama-sama punya standar dalam melakukan penerimaan mahasiswa atau pekerja baru.

Misalnya, perguruan tinggi tidak hanya mengandalkan nilai ujian nasional, tapi juga menggunakan rapor sebagai acuan dalam menilai prestasi anak.

 

Sejak awal anak masuk sekolah orientasi mereka sudah ada di masa depan. Bukan menerawang mau kemana ini setelah lulus.

 

Mereka juga nggak perlu mikir berat lulus atau enggak. Semuanya pasti lulus!

Tapi, kualitasnya tetap akan berbeda-beda sesuai dengan minat dan tujuannya dalam sekolah.

Anak-anak akan tetap belajar dengan serius meski tidak ada ujian nasional, karena mereka sudah ada gambaran mengenai bagaimana mereka akan menjalani kehidupan setelah lulus.


Pro kontra penghapusan UN memang sudah ada sejak dulu.

Untungnya, kita homeschooling.

Lebih bebas menentukan visi pendidikan dan kurikulum sesuai dengan potensi serta kebutuhan anak kita.

Yang lebih penting adalah mengingatkan anak kita mengenai tujuan pendidikan yang sebenarnya.

  • bukan sekedar mencari nilai bagus dalam hal akademis
  • bukan sekedar mengantongi ijazah

Melainkan, meningkatkan kesadaran kita terhadap kelebihan yang Tuhan titipkan dalam diri kita. Kemudian, menggunakannya agar bermanfaat bagi sesama.

Itulah pendidikan yang merdeka!