5 Peran Orangtua dalam Pendidikan Anak yang Wajib Dijalankan

peran orang tua dalam pendidikan anak
peran orang tua dalam pendidikan anak

Orangtua yang menyekolahkan anaknya biasanya hanya mau terima bersih.

Cari sekolah yang paling bagus, favorit, daftarkan anak di sana, kemudian berharap mereka jadi pintar dan baik dengan sendirinya.

Sekarang, muncul lagi satu tren yang menjadikan sekolah-sekolah berbasis agama sebagai sekolah satu paket.

Kalau di sekolah berbasis agama (Islam, misalnya), anak sudah diajari ngaji, belajar bahasa arab, diajari akhlak yang baik sekaligus pelajaran akademis.

Nggak perlu ngajari anak ngaji atau bagaimana beperilaku baik sesuai ajaran agama di rumah.

Kalau anak nakal, nasihat yang kita berikan biasanya “hayo di sekolah diajari bu guru gimana? Kan nggak boleh nakal, harus baik ya sama teman”

 

Sedangkan, keseharian kita di rumah tidak mencerminkan kebaikan yang kita harapkan ada pada diri anak.

 

Kita minta mereka baik sama teman, tapi kita sendiri pelit dan tidak akur sama tetangga.

Padahal, akhlak terpuji hanya bisa diajarkan melalui keteladanan orangtua. Contoh langsung dari keseharian Anda.

Kalau cuma teori sekolah atau peringatan dari mulut Anda, anak-anak akan sulit berubah.

 

Sekolah diibaratkan seperti tukang service elektronik. Kita mengirim barang rusak ke tempat service, cukup membayar lalu menerima hasilnya, berupa benda elektronik yang kembali sehat.

 

Ini adalah cara pandang yang tidak tepat. Pendidikan anak harus berada di tangan orangtua, bukan sekolah.

Sekolah atau lingkungan lain di luar keluarga hanya sebagai alat yang membantu kita mewujudkan visi pendidikan.

Peran Orangtua

Peran orang tua dalam pendidikan anak ada prinsipnya. Berikut adalah 5 prinsip yang perlu Anda ketahui dan terapkan.

Supaya hubungan Anda dan anak menjadi dekat serta harapan-harapan Anda untuk mereka bisa terlaksana.

1. Miliki Kemampuan Menghormati

Pada dasarnya manusia selalu ingin dihargai dan dihormati.

Jangan menganggap karena Anda adalah orangtua yang lebih dewasa, jadi hanya Anda yang berhak untuk dihormati.

Anak kita juga membutuhkan penghormatan.

 

Saat kita kesal dengan perilaku anak, ingin mengkritik dan menasihati, lakukanlah dengan penuh hormat.

 

Jangan sampai mengucapkan kata-kata yang melukai perasaan dan harga diri anak.

Ajak mereka ngobrol, tanyakan pendapat dan perasaannya serta dorong mereka agar mampu membuat keputusan sendiri.

Orangtua seringkali menganggap anaknya lamban. Inilah yang menyebabkan kita malas mengajari mereka dan lebih cepat kalau kita sendiri yang membuat keputusan.

2. Miliki Kemampuan Berempati

Konflik orangtua-anak seringkali terjadi karena kita selalu menggunakan satu perspektif dalam memandang masalah anak, yakni perspektif kita sendiri.

Untuk bisa mengurangi konflik, kita harus memiliki sikap empati. Dengarkan pendapat anak.

Cobalah untuk menempatkan diri Anda pada situasi dan kondisi yang dihadapi anak.

Hal ini akan membantu Anda lebih mengerti pikiran dan perasaan anak.

3. Miliki Kemampuan Mendengarkan

Kita dianugerahi Tuhan 1 mulut dan 2 telinga. Itu berarti, kita harus lebih banyak mendengar ketimbang berbicara.

Sayangnya, yang lebih sering terjadi adalah orangtua terlalu CEREWET! KEBANYAKAN BICARA.

Terlalu sering menasihati karena merasa paling berkuasa dan lebih berpengalaman ketimbang anak.

Hal ini pada akhirnya menutup kesempatan anak untuk berbicara. Padahal, anak kita juga punya pikiran dan perasaan yang perlu didengar.

Mulai sekarang, bagilah porsi bicara dengan anak Anda. Jangan serakah!

4. Berbicara yang Jelas

“Jangan belajar, main terus! Supaya besok nilai ulanganmu bagus.”

Ini bukan cara mengingatkan yang tepat. Anda mungkin ingin meminta anak belajar, tapi kalimat yang Anda sampaikan bisa menimbulkan berbagai penafsiran.

 

Orang dewasa paham dengan kata sindiran. Tapi, anak kita memiliki pengetahuan yang masih terbatas.

 

Salah satu prinsip peran orang tua dalam pendidikan anak adalah berbicara dengan jelas.

Hindari menggunakan kata sindiran. Ungkapkan apa yang ingin Anda katakan pada anak.

Apakah itu rasa sayang, khawatir dan sebagainya.

5. Miliki Kemampuan Bersikap Rendah Hati

Rendah hati itu penting. Saya selalu berpesan pada orangtua untuk jangan menganggap dirinya tinggi dan berkuasa di hadapan anak.

Karena hal ini justru membuat anak merasa tidak nyaman, merasa dikekang, merasa kecil dan tidak dianggap.

 

Rendah hati adalah sikap dimana seseorang memiliki kelebihan, tapi tidak menonjolkannya dengan sengaja di depan orang lain.

 

Bersikaplah bijaksana di depan anak, jangan rendahkan atau ragukan kemampuan mereka.


5 prinsip peran orang tua dalam mendidik anak ini sangat bisa diterapkan untuk anak usia dini, sekolah maupun remaja.

Peranan orang tua dalam pendidikan anak sangat penting. Tidak bisa diwakilkan dan tergantikan oleh siapapun.