Prestasi Belajar Anak Berasal dari Kebiasaan di Rumah

Prestasi belajar anak selalu dikaitkan dengan nilai bagus. Padahal, prestasi belajar terdiri atas 2 kata yang saling berkaitan. Untuk bisa menilai prestasi anak dengan tepat, kita perlu memahami makna belajar lebih dulu.

 

Belajar adalah kegiatan yang mampu membuka wawasan, mendatangkan kebijaksaaan dan memperbaiki karakter seseorang menjadi lebih baik.

 

Semua kegiatan yang mampu mendatangkan 3 kebaikan di atas itu bisa disebut sebagai proses belajar. Sayangnya, orangtua seringkali menganggap..

  • belajar = mendengarkan, membaca, mencatat
  • belajar = mengerjakan PR
  • belajar = pelajaran akademis

Anggapan ini jelas mempengaruhi tindakan kita. Jika anak belum pegang buku, kita katakan belum belajar.

Sedangkan di luar sana mereka bermain dengan temannya, kemudian bertengkar. Dari pertengkaran itu, sebenarnya orangtua bisa mengajarkan pada anak bagaimana caranya mengatasi konflik.

Mengajarkan bagaimana mengontrol emosi, menghilangkan gengsi untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf jika memang anak Anda bersalah dalam pertengkaran itu.

Ada banyak cara untuk belajar. Hal ini tergantung dari kreativitas dan kecermatan orangtua memandang suatu hal kemudian memberi makna belajar.

Sekolah Unggulan Bukan Solusi

Prestasi belajar bukan hanya tentang nilai bagus. Jika kita masih menganggap belajar = nilai bagus, implikasi lain yang terjadi adalah mencari sekolah unggulan.

Karena sekolah unggulan identik dengan 3 hal;

  1. mengajarkan materi akademis lengkap
  2. persentase kelulusan tinggi
  3. meraih banyak prestasi; lomba, olimpiade dll

prestasi belajar

Orangtua ingin anaknya meraih prestasi. Sayangnya, pendidikan di sekolah diartikan sangat sempit; pintar ilmu-ilmu eksakta (MATEMATIKA, FISIKA, BIOLOGI, KIMIA dll.)

 

Inilah yang akhirnya mendorong orangtua berebut mengantarkan anaknya ke sekolah unggulan. Mereka bahkan mulai meremehkan sekolah negeri yang ada di kampungnya.

 

Mereka mencari sekolah alam, sekolah kurikulum internasional, sekolah dengan bahasa Inggris sebagai pengantarnya.

Bukan hanya satu bahasa asing yang jadi pengantarnya, tapi juga ada sekolah multilingual dengan bahasa Arab dan Mandarin sebagai alat komunikasi. Sayangnya, bahasa Ibunya sendiri anak-anak ini tidak paham dengan baik.

Ada juga orangtua yang tidak percaya diri mendidik akhlak anaknya, sehingga memilih sekolah berlabel agama agar anak menjadi soleh-solehah secara otomatis.

Sedangkan, perilaku orangtuanya sendiri tidak mencerminkan soleh-solehah. Sekolah agama itu menjadi mubazir karena anak tak hanya belajar dari sekolah. Justru, mereka menangkap ilmu 2X lebih cepat melalui perilaku orangtuanya.

 

Prestasi belajar bisa diraih BUKAN karena anak masuk sekolah unggulan. Bukan karena sekolah di tempat prestisius dan terkenal.

 

Prestasi belajar hanya bisa diraih secara optimal, jika orangtua mendukung. Karena masalah utamanya bukan sekolah.

Melainkan, pola asuh orangtua, hubungan yang harmonis antara orangtua dan anak. Prestasi belajar anak berasal dari segala kebiasaan di rumah.

Jika prestasi tak hanya berbicara tentang materi akademis, tentu ada hal lain yang menjadi ukuran prestasi.

Berikut adalah CONTOH PRESTASI BELAJAR yang lain;

  1. mampu mengatasi masalah tanpa banyak melibatkan orangtua
  2. mampu menerapkan ilmu dalam keseharian
  3. mampu menganalisa dan mengevaluasi masalah
  4. mampu bekerjasama dengan kelompok
  5. memahami kelebihan dan kekurangan diri
  6. memiliki motivasi belajar – tak perlu disuruh dulu
  7. peka dengan kondisi sekitar
  8. mampu melihat peluang
  9. berpikir kreatif

Jika Anda punya ukuran prestasi lain silahkan tambahkan sendiri. Lalu, bagaimana caranya supaya anak bisa meraih prestasi di atas?

1. Memahami Peran Orangtua

Dalam sistem trisentra milik Ki Hajar Dewantara, terdapat 3 hal maha penting terkait pendidikan anak; alam keluarga (interaksi orangtua-anak)alam perguruan (interaksi guru-anak)alam pergaulan (interaksi teman sebaya-anak).

Ketiganya sangat mempengaruhi karakter manusia. Namun, alam keluarga adalah alam yang paling mempengaruhi. Karena disinilah manusia untuk pertama kalinya dididik.

 

Kita mengajari anak bicara, merangkak, berjalan, membaca dan berteman. Kita memberikan apapun yang mereka butuhkan. Pakaian, mainan, sekolah, kendaraan agar mereka merasa nyaman menjalani hidup.

 

Kita tak suka melihat mereka kesusahan. Saat anak berusia 0 – 7 tahun, mereka selalu dekat dengan kita. Hingga akhirnya mereka dewasa, orangtua mengeluh ‘anakku sudah besar, rasanya baru kemarin aku mengajarinya menyisir rambut.’

Perasaan ini kita simpan dan kunci dalam batin. Hingga akhirnya perlakuan kita terhadap anak tak berubah sekalipun mereka dewasa.

Kita masih saja mendikte. Mau kursus dimana, kuliah dimana, ambil jurusan apa, liburan sama siapa. Kita urusi kriteria pasangan, tempat tinggal, pekerjaan dll.

Selanjutnya, apa yang terjadi? Anak menjadi BERGANTUNG pada orangtua.

Mereka tak mampu berpikir merdeka karena kita menjaganya dalam sangkar emas berupa kemudahan, bantuan, fasilitas berlebihan dan keberlimpahan.

Lalu, apa yang perlu kita sadari terkait peran menjadi orangtua?

  • ajarkan pengetahuan atau ilmu dasar
  • ajari caranya berpikir
  • contohkan perilaku yang baik melalui keteladanan

Berikan 3 modal utama ini dan biarkan anak mencari kehidupannya sendiri.

2. Bangun Kemandirian

Beberapa tahun yang lalu puluhan gajah mati terbakar di pusat hiburan sebelah utara Thailand. Prosedur penyelamatan sudah dilakukan dengan tepat, tapi kenapa gajah-gajah itu bisa mati?

Gajah-gajah itu mati karena sejak bayi kakinya diikat dengan tambang ke tiang besi. Saat terjadi kebakaran, mereka membuka ikatan tapi tambangnya tetap melekat di kaki gajah.

 

Gajah itu mengira dirinya masih diikat ke tambang, sehingga tak bisa lari.

 

Gajah itu badannya besar, ototnya kuat dan perenang handal. Dengan kemampuan hebat itu, seharusnya tidak sulit bagi mereka lari menjauhi bahaya.

Sayangnya, karena terbiasa dihujani fasilitas, dilindungi dan diberikan tempat nyaman sejak bayi, mereka jadi tidak peka dengan bahaya. Mereka sangat manja.

 

Inilah yang akan terjadi pada anak kita, jika kita tidak membangun kemandirian.

 

Dunia makin kompetitif, penuh ketidakpastian, cepat berubah dan makin banyak orang pintar. Artinya, prestasi akademis saja tidak cukup.

Anak juga perlu diajari sikap inisiatif, berpikir kreatif dan pandai berkomunikasi. Jangan hanya diminta berangkat kursus. Lepaskan mereka ke alam bebas agar mandiri.

3. Jelajahi Dunia Baru

Di sekolah, anak dibiasakan bergantung pada instruksi. Mereka duduk manis, mendengarkan dan diladeni. Mereka tidak dibiasakan berpikir, melainkan hanya diajari cara menghafal.

 

Inilah yang akhirnya membuat anak kesulitan keluar dari zona nyaman dan takut menjelajahi dunia baru.

 

Mereka tak berani mengungkapkan pendapat, padahal pendapat itu sangat bagus untuk kemajuan hidupnya.

Anak harus dibiasakan dengan ketidakpastian. Karena dunia bergerak dinamis dan senantiasa menuntut perubahan.

Kalau mereka menunggu diperintah dan hanya diajari cara menghafal, anak akan “sulit beradaptasi” dengan dunia baru.

Mereka mudah mengeluh, takut mencoba, tak berani membuat keputusan, terjebak dalam rutinitas dan semua ini menjadikan anak stuck dalam satu keadaan alias merasa mentok jika menghadapi masalah.

Jangan hanya berpikir soal prestasi akademis dan sekolah. Berikan tantangan dan motivasi agar mereka tergerak mencoba hal baru. Serta berani menjajal kemampuannya.

Homeschooling dan Prestasi Belajar

Tahukah Anda, kalau Homeschooling itu bukan lembaga? Ianya adalah pendidikan berbasis keluarga dimana orangtua bertanggung jawab atas proses belajar anaknya.

Dengan homeschooling, kesempatan mengajak anak keluar dari zona nyaman, membangun kemandirian dan mengajari hal-hal yang tidak diajarkan sekolah terbuka lebar.

Bergabunglah dengan kami PelatihanHomeschooling.com untuk mendapatkan beragam tips dan artikel menarik seputar Homeschooling dan dunia pendidikan. GRATIS dikirim langsung ke email Anda.