Cara Mengajarkan Sosialisasi pada Anak Homeschooling

Praktisi homeschooling seringkali dihadapkan dengan orang yang meragukan kemampuan sosialisasi anaknya.

Benarkah anak homeschooling selalu belajar di rumah, hanya bertemankan orangtua dan produk teknologi?

Guna menjawab keraguan itu, saya akan tunjukkan 4 fakta sosialisasi anak homeschooling. Agar mindset teman-teman mengenai sosialisasi anak homeschooling bisa berubah.

1. Sosialisasi adalah Hasil dari Pola Asuh Orangtua

Kalau ada yang meragukan kemampuan sosialisasi anak homeschooling, pernahkah Anda bertanya pada diri sendiri apakah anak dari sekolah formal juga selalu memiliki kemampuan sosialisasi yang baik?

 

Jawabannya tidak. Ada juga anak dari sekolah formal yang rendah diri, memiliki konsep diri negatif dan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru.

 

Dan hal ini sebenarnya tergantung dari pola asuh orangtuanya.

  • Bagaimana orangtua menanamkan nilai dan prinsip hidup pada anak
  • Bagaimana orangtua merancang kegiatan belajar, bertemu orang-orang lintas usia
  • Bagaimana orangtua mengajarkan anak gabung komunitas dan belajar berteman secara mandiri

2. Homeschooling Bisa Berteman dengan Siapa Saja

Hal ini bisa Anda perhatikan dari pergaulan Anda dulu sewaktu sekolah atau interaksi sosial anak-anak Anda sendiri.

Anak sekolah pada satu jenjang tidak berani bergaul dengan kakak kelasnya. Mereka merasa takut, minder dan mengaku menghormati seniornya.

Anak-anak yang tergolong senior pun merasa gengsi jika harus bergaul dengan juniornya. Karena menganggap diri mereka memiliki otoritas lebih di sekolah.

Memang tidak semua anak sekolah tidak berani dengan senior dan merasa gengsi dengan adik kelas.

 

Tapi, praktik seperti ini sangat mudah ditemukan di sekolah-sekolah. Artinya, lebih banyak yang menjalankan budaya ‘digencet senior’ ketimbang yang tidak.

 

Lalu, bagaimana dengan Homeschooling? Anak-anak berteman dengan siapa saja. Tidak selalu berteman dengan sebaya. Mereka juga bergaul dengan tetangga, organisasi masyarakat dan komunitas sehobi.

Yang mana kelompok itu terdiri atas orang-orang dari lintas usia.

3. Tak Semua Orang Jadi Teman Baik

Coba Anda perhatikan budaya pergaulan di sekolah. Dari ratusan anak seangakatan Anda, apakah Anda berteman dengan semuanya? Jelas tidak.

 

Jangankan berteman, kenal saja tidak semuanya. Benar sekali! Kita tidak mengenal dengan baik semua teman kita dalam satu angkatan sewaktu sekolah.

 

Sampai Anda dewasa dan berumah tangga, berapa banyak teman sekolah yang sampai saat ini masih  berteman baik dengan Anda?

Kita hanya akrab dengan beberapa orang saja mungkin sekitar 5-10 orang. Tidak banyak, kan?

Artinya, tidak perlu memusingkan berapa banyak jumlah teman dekat kita. Yang paling penting adalah berteman dengan orang yang tepat dan membantu pribadi anak lebih berkembang ke arah positif.

4. Pahami Makna Sosialisasi

Sosialisasi bisa dilihat dari 3 hal;

  1. Penanaman nilai dan prinsip hidup
  2. Membangun kecakapan sosialisasi
  3. Interaksi lingkungan sekitar

Jika kita melihat sosialisasi sebagai cara untuk menanamkan nilai dan prinsip hidup, maka tempat yang tepat adalah keluarga. Bukan teman sebaya.

 

Bagaimana kita menanamkan prinsip kejujuran, membangun karakter anak, membantu anak mengelola emosi, memperhatikan perkembangan psikologis mereka serta menjadi orangtua teladan.

 

Mengatakan atau menasihati anak sembari mencontohkannya melalui keseharian. Itulah penanaman nilai dan prinsip hidup yang tepat.

Kita juga perlu melihat sosialisasi sebagai cara untuk membangun kecakapan sosial.

Dalam berinteraksi dengan orang lain, manusia harus punya ADAB. Adab inilah yang saya sebut dengan kecakapan sosial. Anak-anak harus tahu bagaimana cara;

  • mengungkapkan perasaan dan pemikirannya
  • memiliki kemampuan mendengarkan yang baik
  • memiliki kepedulian, peka dengan kondisi sekitar
  • mampu memahami orang lain
  • mampu mengatasi konflik
  • pandai bernegosiasi
  • berpartisipasi dalam kelompok masyarakat dll

Jadi, bukan asal berteman dengan orang-orang sebaya. Tapi, dalam berteman itu anak-anak perlu diajari adabnya.

 

Lagi-lagi, orangtua dan keluarga adalah tempat yang tepat dalam mengajarkan adab berteman pada anak. Bukan teman sebaya.

 

Makna sosialisasi yang ketiga adalah sebagai cara untuk mengajarkan anak berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Nah, disini kita bisa mengajak anak untuk berteman dengan sebaya.

Tapi, bentuk dari interaksi lingkungan sekitar itu tidak hanya teman sebaya. Ada juga saudara, keluarga besar, lingkungan sekitar rumah, organisasi atau komunitas sehobi.

Supaya anak tidak hanya pandai bergaul dengan anak-anak seusianya. Tapi juga LUWES bergaul dengan orang-orang dari lintas usia.

Kalau Anda adalah praktisi Homeschooling, yuk belajar bagaimana cara tepat mengajarkan adab bersosialisasi pada anak. Panduannya sudah ada di Ebook ini.. Silahkan didownlad!

sosialisasi anak homeschooling

Selanjutnya, kami ajari Anda bagaimana MEMANFAATKAN KESEHARIAN UNTUK KEGIATAN BELAJAR HOMESCHOOLING.