Apakah Tujuan Pernikahan Hanya Membuat Anak?

tujuan pernikahan
tujuan pernikahan

Judul di atas sungguh tepat menggambarkan betapa banyak diantara kita yang tidak memiliki tujuan dan kerangka berumah tangga yang jelas.

Jika Anda berkunjung ke toko buku atau perpustakaan, kemudian melihat-lihat bagian parenting. Anda akan disuguhi banyak buku seputar, kehamilan, resep makanan pendamping ASI, bagaimana cara mendidik anak ala nabi, bagaimana cara membuat anak rajin belajar, membuat anak patuh, mendidik anak sukses dll.

Ada hal yang kita lewatkan dalam berbicara tentang parenting, yakni mendidik perasaan kita sebagai pasangan dari istri/suami kita dan membuat visi pernikahan yang jelas.

Hanya karena..

  • cinta
  • sepi karena sudah lama sendiri
  • merasa tua dan sepantasnya menikah
  • sedih melihat banyak teman seangkatan sudah menikah

Hal ini seharusnya tak lantas membuat kita terburu-buru mencari orang yang mau menikah dengan kita.

Karena alasan pernikahan yang tidak jelas akan membuat arah pernikahan kita ikut tidak jelas. Dalam kasus seperti ini yang menjadi korbannya adalah ANAK-ANAK KITA.

Itulah sebab, dalam tulisan ini saya menulis bahwa pernikahan bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan biologis karena merasa sudah saatnya. BUKAN SEKEDAR BUAT ANAK.

Ketua Divisi Telaah dan Kajian KPAI Rita Pranawati menjelaskan, “Kami menemukan dari survei hanya 27,9% ayah dan 36,6% ibu yang mencari informasi pengasuhan berkualitas sebelum menikah. Artinya persiapan dari sisi pengetahuan orang tua masih sangat jauh dari ideal.”

Setelah melangsungkan pernikahan, kita jadi sibuk membaca buku tentang kehamilan, mendidik anak dan membuatnya agar rajin belajar.

Tapi, melupakan hal yang mahapenting sekaligus menjadi dasar dari pola pengasuhan itu sendiri yakni, MENATA PERASAAN KITA SEBAGAI PASANGAN.

Fakta mengatakan 90% masalah anak bersumber dari orangtua.

  • Kenapa anak suka berteriak?
  • Kenapa anak suka mengancam?
  • Kenapa anak suka memukul?
  • Kenapa anak suka bertengkar?
  • Kenapa emosinya meledak-ledak dan sulit diajak kerjasama?

Inilah yang terjadi pada banyak anak yang dibawa orangtuanya ke psikolog atau konsultan parenting. Tidak hanya itu, masalah yang sifatnya lebih krusial saat mereka dewasa juga terjadi.

Seperti, kesulitan bergaul, tidak percaya diri, melakukan KDRT terhadap pasangan, tidak bahagia dengan karir dan hidupnya, tidak memiliki manajemen emosi yang baik serta berdampak pada pola hubungan anak dengan pasangannya kelak.

Pola Hubungan dengan Pasangan

Saya tidak mengatakan kalau ilmu parenting tidak penting. Hal itu penting, tapi dalam membina rumah tangga; parenting, hubungan orangtua-anak, pendidikan anak dan lain-lain itu posisinya nomor dua.

Yang nomor satu adalah pola hubungan orangtua itu sendiri. Ya, pola hubungan Anda dan pasangan.

Karena hal ini akan menjadi dasar dari hubungan Anda dengan anak. Akan menjadi dasar dalam memilih pola asuh yang tepat.

Anak-anak akan melihat bagaimana orangtuanya menghadapi masalah, mengatasi masalah, berinteraksi, bernegosiasi, berdiskusi, memberikan perhatian dan saling mencurahkan kasih sayang.

Jika pola hubungan orangtua tidak sehat dan harmonis, maka kedua hal itu akan menular pada pola hubungan anak dengan orang lain di sekitarnya sekaligus pasangannya kelak.

Dalam tulisan ini saya akan paparkan 8 pola komunikasi dengan pasangan yang mana setelah menikah banyak mereka lewatkan.

1. Mengkritik dan Mengarahkan

Kita sibuk mengkritik pasangan karena tidak perhatian, tidak seromantis dulu waktu pacaran, lupa memenuhi janjinya dll. Tapi, kita sekedar menggurutu dan tidak mengarahkan sikap apa yang seharusnya mereka ambil.

2. Bekerjasama dan Rajin Diskusi

Pasangan bukan sekedar orang yang bisa diajak ke acara kondangan atau pengubah status sosial supaya tidak mendapat label jomblo.

Pasangan adalah orang yang melengkapi kita dalam segala hal. Orang yang sepatutnya rajin diajak diskusi dan kerjasama dalam meniti rumah tangga, bicara karir, agama, masa depan dll.

Hubungan yang baik didasari dengan pola komunikasi yang baik. Dan, pola komunikasi yang baik bisa Anda awali dengan rajin bekerjasama dan diskusi bersama pasangan.

3. Belajar Manajemen Emosi

Kalau marah, ya ungkapkan! Kalau Anda terganggu dengan ngoroknya, ya katakan!

Kalau kesal karena dia suka menaruh baju kotor sembarangan, jelaskan!

Karena pasangan kita BUKAN DUKUN yang bisa mengetahui perasaan kita tanpa perlu kita bicarakan. Pasangan Anda juga BUKAN INDIGO yang bisa merasakan apa yang Anda rasakan.

Mengungkapkan apa yang kalian rasakan dengan jujur membantu kalian belajar tentang manajemen emosi.

4. Bernegosiasi Sebelum Membuat Keputusan

Berapa banyak diantara Anda setelah menikah beberapa tahun, tapi lupa kalau punya pasangan?

Hampir sebagian besar menganggap pasangan ‘akan baik-baik saja’ saat kita membuat keputusan tanpa mereka.

tujuan pernikahan
tujuan pernikahan

Saat kita sadar bahwa ini tidak baik dan bisa memicu pertengkaran, kita justru menganggapnya enteng.

“Ah gampang, ntar juga bisa menerima seiring waktu.”

Melibatkan pasangan dalam membuat keputusan sekalipun sepele akan menumbuhkan perasaan berharga dalam diri mereka. Ingat ini!

5. Berbagi Peran dan Tanggung Jawab

Hubungan antar manusia itu perlu pengorbanan. Waktu, tenaga, pikiran, uang dan semua hal yang bisa Anda lakukan untuk pasangan Anda.

Dalam berkorban ini, Anda akan merasa lelah, tertekan, semangat mudah sekali up and down. Maka, yang perlu Anda lakukan adalah berbagi peran dan tanggung jawab bersama mereka.

Jangan melakukan semuanya sendiri, karena Anda bukan superhero.

6. Tidak Menyelesaikan Konflik dengan Tuntas

Sebuah penelitian mengungkapkan, “3 masalah yang sering muncul pada 5 tahun pertama pernikahan akan terus muncul di tahun-tahun berikutnya.”

Jika..

Anda tidak menyelesaikan masalah itu dengan tuntas sampai ke akar-akarnya.

Saat ayah pulang terlambat dan tidak memberi kabar. Si ibu marah dan kesal pada ayah. Kemudian, ayah berkata “maaf.”

Jangan anggap masalah ini selesai. Masalah tidak lantas menjadi selesai hanya dengan menyebut “maaf.”

Kalian perlu bicara dan mencari solusi sekalipun masalah itu sepele. Jangan sampai masih ada perasaan mengganjal dan diperlakukan tidak adil oleh pasangan.

7. Berhenti Intim dan Memberi Perhatian

Dulu di awal pernikahan, semuanya terasa mudah dikatakan dan dilakukan.

Berkata yang manis-manis, perhatian super, pengertian yang tiada duanya sampai lupa berbakti sama orangtua karena yang penting pasangan bahagia sebahagianya.

Setelah bertahun-tahun, kita mulai lelah melakukan itu semua. Sampai akhirnya intensitas perhatian dan keintiman berkurang.

Kalau hal itu terjadi, mulailah kembali rajin seperti dulu. Ingat apa yang membuat Anda suka dengan pasangan. Tumbuhkan kenangan-kenangan masa lalu.

8. Tidak Belajar Komunikasi Verbal dan Nonverbal

Sekedar mendengarkan apa yang dikatakan pasangan tidaklah cukup. Anda perlu belajar memahami gerak tubuhnya, matanya, pola tangan dan kakinya.

Karena bahasa tubuh manusia bicara lebih banyak dan lebih jujur ketimbang apa yang keluar dari mulutnya.


Setalah Anda sadar bahwa selama ini telah melupakan 8 pola komunikasi di atas, sekarang mulailah kembali menata pola komunikasi kalian.

Sangat mungkin anak yang sering berulah di sekolah, sulit diatur/diajak kerjasama memiliki ibu yang kurang mendapat perhatian dari ayahnya.

Ayah sibuk bekerja hingga lupa memberikan kebutuhan affection kepada pasangannya. Ibu terlalu sering membuat keputusan sendiri hingga ayah merasa tidak dilibatkan dan dihargai.

Selanjutnya, hal ini berdampak pada kemampuan Anda yang tidak berkualitas dalam mengasuh anak. Hasilnya, terlihat pada sikap dan perilaku anak yang tak sesuai harapan Anda.