USBN Tidak Pantas Dijadikan Penentu Kelulusan, Kenapa?

Untuk jenjang SMP dan SMA/K secara umum akan ada 2 jenis ujian akhir, yakni UN/UNBK dan USBN. Sedangkan, untuk jenjang SD akan ada USBN dan US. Dalam tulisan ini, saya hanya fokus membahas pelaksanaan USBN 2018.

 

USBN adalah Ujian Sekolah Berstandar Nasional. Sebenarnya, USBN adalah penjelmaan dari US. Bedanya kalau USBN itu berstandar nasional, sedangkan US berstandar satuan pendidikan (sekolah).

 

Untuk jenjang SD, mata pelajaran yang diujikan dalam USBN adalah Bahasa Indonesia, Matematika dan IPA. Untuk program paket A, 3 mapel tersebut ditambah IPS dan PKn.

Prosedur pembuatan soalnya adalah 20-25% disiapkan oleh Pusat dan 75-80% disiapkan oleh guru atau KKG (Kelompok Kerja Guru).

Selain USBN, adik-adik jenjang SD juga harus menghadapi Ujian Sekolah. Dengan mata pelajaran Pendidikan Agama, PKn, IPS, Seni Budaya dan Keterampilan serta Penjaskes dan Olah raga.

Untuk pembuatan soal US, 100% disiapkan oleh masing-masing sekolah.

Untuk jenjang SMP, SMA, SMK sederajat, mata pelajaran USBN adalah SEMUA MATA PELAJARAN. Untuk program paket B dan C juga memasukkan semua mata pelajaran dalam USBN.

Prosedur pembuatan soalnya adalah 20-25% disiapkan oleh Pusat dan 75-80% disiapkan oleh guru dan dikonsolidasikan di MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran).

Komposisi soalnya terdiri atas 90% pilihan ganda dan 10% esai. Berbeda dengan jaman saya dulu, US itu gampang banget tinggal silang sana-sini yang menurut feeling kita betul.

Tujuan USBN

Melalui USBN, Mendikbud Muhadjir Effendy berharap akan ada peningkatkan kompetensi guru dalam melakukan penilaian.

Sedangkan, bagi siswa diharapkan dapat diukur capaian kompetensi mereka setelah menyelesaikan program pendidikan pada jenjang tertentu.

 

Selama ini banyak guru dianggap tak mampu menyusun soal dengan kualitas yang baik dan mendorong murid untuk berpikir.

 

Hampir sebagian besar pertanyaan yang disusun bisa kita temukan jawabannya dengan mudah di buku paket atau LKS.

Pertanyaannya pun lebih berupa perintah dengan menggunakan kata kerja operasional, seperti sebutkan, jelaskan, tuliskan atau bedakan.

Sayangnya, model pertanyaan dan soal dalam ujian sekolah selama ini hanya memaksa murid merecall materi yang sudah dihafalkan semalam sebelumnya.

usbn adalah

Penulisan soal USBN kali ini 75-80% disusun oleh guru dalam forum KKG/MGMP dengan mengacu pada kisi-kisi yang dikeluarkan oleh Puspendik Kemdikbud.

Dalam penyusunan soal tersebut, guru tak boleh sembarangan atau asal menggunakan kata perintah ‘sebutkan’ atau ‘jelaskan’. Soal-soal USBN dituntut harus mencakup 3 level kognitif seorang murid yakni,

  1. memahami dan menguasai konsep
  2. mengaplikasikan konsep
  3. menalar konsep

Diharapkan, murid tak hanya merecall informasi yang telah dihafalkan.

Mereka dituntut memahami materi untuk kemudian mampu menemukan informasi penting yang tersirat, membuat kesimpulan berdasarkan analisanya serta melakukan evaluasi informasi.

Inilah salah satu tujuan adanya soal esai dalam USBN.

Tak Pantas Jadi Penentu Kelulusan

Sejak 2015 USBN sudah menjadi penentu kelulusan. Tapi, USBN bukan satu-satunya penentu kelulusan.

Masih ada kriteria lain seperti harus menyelesaikan semua program pendidikan 6 tahun untuk SD, 3 tahun untuk SMP atau memiliki nilai baik untuk karakter, akhlak dan budi pekerti.

 

Selain itu, ada juga sekolah yang menggunakan prosentase kelulusan 50% untuk nilai USBN, Ujian Praktek dan Nilai Rapor. Sisanya sebanyak 50% tetap menggunakan nilai UN/UNBK.

 

Tapi, saya tetap memandang USBN tidak bisa dijadikan sebagai alat penentu kelulusan.

Karena kelulusan selama ini masih lekat dengan label ‘bodoh’ jika tak lulus atau nilainya pas-pasan serta label ‘pintar’ kalau lulus dan nilainya bagus.

*Baca juga, Cara Tepat Mengevaluasi Proses Belajar Anak

Sebagus apapun model pertanyaan yang disusun, apakah itu sudah mencakup kemampuan berpikir level tinggi atau belum, tetap saja ujian yang dilakukan pada akhir masa sekolah tidak bisa menentukan KOMPETENSI ANAK KITA SECARA JELAS.

 

Perhatikan saja ranah yang dites kan cuma kognitif, apa kabar ranah afektif dan psikomotorik? Sebagai contoh, afektif itu mencakup watak perilaku (kepribadian dan akhlak mulia).

 

Pendidikan Agama yang lebih dominan mengajarkan perilaku akhlakul karimah tidak bisa dievaluasi dalam ranah kognitif saja.

Kejujuran, tanggung jawab, saling tolong menolong yang diajarkan dalam Pendidikan Kewarganegaraan tak bisa dievaluasi dalam ranah kognitif saja. Para guru mungkin akan berdalih..

 

“oh sekarang dalam kurikulum 2013 ada standar penilaian khusus untuk moral dan akhlak. Kita mengamati keseharian murid, kok. Kita tak hanya ambil nilai dari ujian semester atau ujian sekolah.”

 

Sampai kapanpun moral dan akhlak mulia tidak akan pernah bisa dinilai dan diukur dengan ujian tertulis atau diamati dari apa yang tampak.

Bisa jadi lho di sekolah murid-murid bersikap manis dan berjiwa spiritual baik agar bernilai di mata guru. Tapi bagaimana dengan kesehariannya di rumah?

Anda tak mungkin kan mendatangi rumah masing-masing murid guna mengecek apakah mereka sudah berlaku rendah hati dan meninggalkan maksiat?

 

Tidak mungkin! Anda tetap akan menilainya dari apa yang Anda lihat di sekolah saja.

 

USBN bagus untuk menilai dan mengukur kemampuan kognitif murid.

Tapi, jika dijadikan penentu kelulusan kemudian digabungkan prosentasenya dengan nilai rapor, Ujian Praktek dan UN/UNBK yang notabene juga mengukur kemampuan anak dari ranah kognitif, ya itu sama saja.

Pada akhirnya, profil lulusan anak-anak kita hanya dipandang dari SEGI KOGNITIF.