5+ Wasiat Parenting dari Anak untuk Ayah Ibu

Halo!

Surat wasiat ini saya buat secara subyektif. Kalau Anda suka, bisa Anda jadikan referensi. Kalau Anda tidak suka, cukup diskip saja.

Saya langsung saja. Karena yang namanya wasiat itu biasanya tidak berbelit-belit.

WASIAT PERTAMA – Orangtua dilarang bertengkar di depan anak.

Anak-anak kita, tidak paham dengan konflik orang dewasa. Yang mereka tahu hanya bermain, bersenang-senang dan sangat cinta damai. Khususnya anak-anak usia 7 tahun ke bawah ya.

Ketika mereka melihat orangtuanya bertengkar, mereka takut dan bingung. Ada apa nih dengan orangtua saya?

Biasanya tidak seperti ini. Biasanya baik-baik saja, ketawa ketiwi. Kenapa suasana rumah jadi canggung dan tidak menyenangkan begini.

Mereka cemas. Apakah mereka masih orangtua saya? Apakah mereka masih mencintai saya? Kalau iya, kenapa mereka bertengkar.

Anak-anak yang awalnya cinta damai, otaknya berpikir kemana-mana. Apalagi kalau tiap hari mereka melihat pertengkaran orangtuanya.

Ini berbahaya. Anak-anak akan menyerap atmosfer tidak menyenangkan itu, menyimpannya dalam memori otak mereka dan menganggap bahwa pernikahan itu mengerikan.

Pernikahan itu tidak menyenangkan, karena setiap hari yang ada hanyalah konflik. Bagaimana menurut Anda kalau disitu ayahnya tidak hanya sekedar bentak ibunya, tapi juga melakukan kekerasan?

Anak akan berpikir, ternyata pria kalau bertengkar sampai menampar, menginjak, meludah, membentak, menghina, membuat ibunya menangis.

Anak ini, bisa trauma dengan yang namanya laki-laki. Jika dia anak perempuan, bisa saja muncul ketakutan untuk menikah. Dia bisa saja menjadi jijik dengan pria. Karena teringat ayahnya yang kasar pada ibunya.

Jadi, bertengkar di depan anak bukanlah hal yang bijak. Sebagai manusia yang telah dewasa, alangkah baiknya kita mencari tempat yang aman dari penglihatan dan pendengaran anak jika bertengkar.

Agar anak kita pikirannya tidak terframing bahwa pernikahan itu mengerikan karena penuh dengan konflik 2 orang dewasa.

WASIAT KEDUA – Minta maaf pada anak jika terlanjur bertengkar di depan mereka.

Miss Ayu, yang namanya konflik itu kadang muncul secara spontan. Bagaimana jika anak-anak menyaksikan konflik yang spontan itu tadi?

Saya rasa sebagai orang dewasa, Anda lebih pandai mengontrol emosi ya. Seharusnya Anda bisa tahan sebentar, anak-anak dimasukkan ke kamar, disuruh nonton YouTube atau main gadget dulu.

Setelah itu, kita mau jungkir balik, salto, kayang sama pasangan juga tidak masalah. Tapi, kalau benar-benar itu adalah di luar kendali kita, maka ya sudah selanjutnya kita perlu klarifikasi pada anak-anak kita.

Setelah bertengkar dengan pasangan, cari momen yang tepat di hari itu juga untuk minta maaf pada anak Anda.

Jelaskan pada anak Anda bahwa yang namanya pernikahan, terdiri atas 2 orang laki-laki dan perempuan, tentu saja konflik bisa muncul.

Karena ayah dan ibu berangkat dari latar belakang hidup yang berbeda, dibesarkan dengan cara yang berbeda, kepribadian kita berbeda, kemudian disatukan untuk hidup bersama, maka konfilk tidak bisa dihindarkan.

Tapi, tidak masalah. Yang namanya konflik dalam rumah tangga itu wajar, sekarang juga ayah dan ibu sudah saling berbaikan. Kita sudah menemukan jalan keluar dari diskusi keras kita hari ini.

Jadi, kamu tidak perlu khawatir. Ayah dan ibu baik-baik saja. Kamu tadi kaget yah, ayah dan ibu minta maaf ya kalau tadi sudah bikin kamu kaget.

Anda katakan saja seperti itu. Insyallah nanti anak akan mengerti. Mereka perlu diberi pemahaman mengenai konflik orangtuanya agar pikirannya tidak kemana-mana.

WASIAT KETIGA – Jangan curhat masalah orang dewasa pada anak.

Orang dewasa saja, kalau dicurhati masalah rumah tangga tiap hari, ada yang tiba-tiba jadi takut menikah lho.

Jadi, tiap hari dia dicurhati temannya yang mana suaminya ini selingkuh dengan rekan kerjanya sendiri. Setiap hari, kalau ada masalah dengan suaminya, curhatnya pada temannya yang belum menikah.

Ini keliru. Karena si teman ini tidak memiliki background psikologi. Si teman ini bisa jadi sensitif dan baperan. Jiwanya tidak strong.

Akhirnya apa, kebawa ke kehidupan nyata. Dia jadi khawatir, jangan-jangan nanti kalau saya menikah, suami saya selingkuh juga. Akhirnya, kalau didekati pria dia takut memulai. Dia takut membuka diri.

Ini orang dewasa ya, yang sudah memiliki kemampuan berpikir logis. Bagaimana dengan anak-anak kita yang otaknya itu masih sangat responsif dimana apapun yang dimasukkan ke otaknya, tidak ada filternya. Langsung diterima!

Jadi, kita perlu berhati-hati untuk tidak curhat masalah orang dewasa kepada anak-anak kita. Apa yang kita curhatkan ke anak kita, haruslah sesuai dengan usia mereka.

Saya pernah mendapati kasus seperti ini. Seorang dewasa yang takut menikah karena dulu sewaktu kecil, ibunya itu kalau bertengkar dan jengkel dengan ayahnya, ceritanya, ngedumelnya, ngeluhnya ya sama anaknya itu.

Semua kejengkelan dan keluhan seorang istri terhadap suaminya, selalu diceritakan pada anaknya. Akhirnya apa, muncul kejengkelan yang sama, yang dirasakan anak kepada ayahnya.

Padahal, si ayah baik sekali pada anaknya. Si ayah tidak salah apa-apa pada si anak, bahkan sayang banget. Tapi, jiwa anak ini seolah memendam dendam pada ayahnya.

Mengerikan, ya? Jadi, tanpa sebab apapun si anak ini kalau bicara pada ayahnya selalu pakai nada menggerutu. Tidak bisa dengan kalimat yang baik-baik. Hubungan ayah anak ini jadi tidak baik.

Karena saking seringnya si ibu curhat yang buruk-buruk mengenai ayahnya. Dan, itu terpatri dalam alam bawah sadar anak, menjadikannya sebagai sebuah sistem dan sistem itu menggerakkan pikiran anak secara otomatis.

Nah, klien saya ini akhirnya perlu diterapi beberapa kali di kantor saya untuk mengeluarkan dendam “maya” yang dia rasakan pada sang ayah.

WASIAT KEEMPAT – Didik anak perempuan Anda sebagai seorang perempuan sejati.

Pengasuhan itu tidak hanya didasarkan pada minat saja. Tapi, juga didasarkan pada jenis kelaminnya.

Jika anak Anda perempuan, didiklah dia sebagaimana perempuan sejati. Munculkan jiwa feminitasnya. Ajari bagaimana cara merawat, mengayomi keluarga, mencintai, mengasihi, munculkan jiwa keibuannya.

Ajarkan dia semua skill yang diperlukan anak pada saat nanti dia harus berumah tangga. Jangan Anda pikir skill menjadi ibu rumah tangga yang mengurus anak dan suami itu bisa muncul sendiri ya seiring kondisi yang memaksa.

Banyak ibu rumah tangga yang stres dan kegiatannya berantakan lho karena ketidaksiapan mereka terhadap realitas yang mereka hadapi.

Jadi, jangan ragu mendidik anak Anda sebagaimana jenis kelaminnya. Ini penting! Dan, ini adalah fitrahnya.

Apalagi ketika anak-anak Anda usia playgrup, SD kemudian menginjak remaja, penting juga bagi mereka untuk dekat dengan ayahnya sebagai anak perempuan.

Dia perlu mendapatkan kasih sayang dan cinta yang full dari ayahnya supaya nanti ketika dia dewasa, lalu kenal dengan lawan jenis, dia tidak mengemis-ngemis cinta.

Anak perempuan Anda tidak sembarangan memberikan cintanya hanya karena rayuan gombal. Karena apa, karena dia sudah mendapatkan kasih sayang full dari ayahnya sejak kecil.

WASIAT KELIMA – Didik anak lelaki Anda sebagai seorang lelaki sejati.

Seperti anak perempuan, anak lelaki juga harus dididik sebagai lelaki sejati.

Ajari dia tentang kepemimpinan, ajari tentang peluang-peluang hidup yang ada di sekitar dia. Kalau bisa, ajak dia ke tempat usaha Anda atau ke kantor Anda.

Agar dia paham bahwa pria itu harus bertanggung jawab terhadap keluarga. Banyak lho sekarang, pria yang tahu istrinya bekerja kemudian tidak mau menafkahi istrinya.

Padahal, itu kewajibannya meskipun istri bekerja. Jadi, jiwa kepemimpinan lelaki harus ditumbuhkan sedari dini.

Tidak hanya itu, anak lelaki Anda juga sejak kecil sangat boleh untuk dekat dengan ibunya. Agar dia paham hati wanita itu penuh kelemahlembutan. Tapi, dekatnya juga perlu ditata dan ada porsinya.

Nanti kalau berlebihan bisa manja dan ngondek. Jadi, dari kedekatan anak dengan ibunya ini, dia akan paham bahwa hati wanita itu sensitif.

Insyallah, kelak kalau dia dewasa, dia tidak akan mudah menyakiti hati wanita. Karena teringat dengan ibunya. Dia akan jadi pria yang bertanggung jawab dan memimpin.

WASIAT TAMBAHAN – Tunjukkan keharmonisan orangtua pada anak.

Dari semua wasiat yang saya bagikan ini, dasar wasiatnya sebenarnya hanya satu yakni keharmonisan orangtua.

Sebagai orangtua, kita tidak perlu mencari rumus parenting yang paling hebat. Tidak perlu mencari strategi mengasuh anak yang pasti berhasil.

Tidak penting itu semua!

Saya yakin bahkan khaqul yakin 100%, orangtua hanya perlu menunjukkan keharmonisan dan kekompakan sebagai pasangan, itu sudah menjadi formula paling tepat untuk membuat anak Anda sukses di masa depan.

Ketika orangtua kompak dan harmonis, anak Anda akan sehat secara mental. Ketika anak sehat secara mental, dia bisa melakukan apapun.

Tidak percaya? Coba saja.